Tuesday, June 26, 2012

Teori - Teori Sosiologi Dan Penerapanya


TEORI INTERAKSIONALISME SIMBOLIK

Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik tidak bisa dilepaskan dari pemikiran George Harbert Mead (1863-1931). Mead dilahirkan di Hadley, satu kota kecil di Massachusetts. Karir Mead berawal saat beliau menjadi seorang professor di kampus Oberlin, Ohio, kemudian Mead berpindah pindah mengajar dari satu kampus ke kampus lain, sampai akhirnya saat beliau di undang untuk pindah dari Universitas Michigan ke Universitas Chicago oleh John Dewey. Di Chicago inilah Mead sebagai seseorang yang memiliki pemikiran yang original dan membuat catatan kontribusi kepada ilmu sosial dengan meluncurkan “the theoretical perspective” yang pada perkembangannya nanti menjadi cikal bakal “Teori Interaksi Simbolik”, dan sepanjang tahunnya, Mead dikenal sebagai ahli sosial psikologi untuk ilmu sosiologis. Mead menetap di Chicago selama 37 tahun, sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1931 (Rogers. 1994: 166).
Semasa hidupnya Mead memainkan peranan penting dalam membangun perspektif dari Mahzab Chicago, dimana memfokuskan dalam memahami suatu interaksi perilaku sosial, maka aspek internal juga perlu untuk dikaji (West-Turner. 2008: 97). Mead tertarik pada interaksi, dimana isyarat non verbal dan makna dari suatu pesan verbal, akan mempengaruhi pikiran orang yang sedang berinteraksi. Dalam terminologi yang dipikirkan Mead, setiap isyarat non verbal (seperti body language, gerak fisik, baju, status, dll) dan pesan verbal (seperti kata-kata, suara, dll) yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti yang sangat penting (a significant symbol).
Selain Mead, telah banyak ilmuwan yang menggunakan pendekatan teori interaksi simbolik dimana teori ini memberikan pendekatan yang relatif khusus pada ilmu dari kehidupan kelompok manusia dan tingkah laku manusia, dan banyak memberikan kontribusi intelektual, diantaranya John Dewey, Robert E. Park, William James, Charles Horton Cooley, Ernest Burgess, James Mark Baldwin (Rogers. 1994: 168).
Generasi setelah Mead merupakan awal perkembangan interaksi simbolik, dimana pada saat itu dasar pemikiran Mead terpecah menjadi dua Mahzab (School), dimana kedua mahzab tersebut berbeda dalam hal metodologi, yaitu (1) Mahzab Chicago (Chicago School) yang dipelopori oleh Herbert Blumer, dan (2) Mahzab Iowa (Iowa School) yang dipelopori oleh Manfred Kuhn dan Kimball Young (Rogers. 1994: 171).
Mahzab Chicago yang dipelopori oleh Herbert Blumer (pada tahun 1969 yang mencetuskan nama interaksi simbolik) dan mahasiswanya, Blumer melanjutkan penelitian yang telah dilakukan oleh Mead. Blumer melakukan pendekatan kualitatif, dimana meyakini bahwa studi tentang manusia tidak bisa disamakan dengan studi terhadap benda mati, dan para pemikir yang ada di dalam mahzab Chicago banyak melakukan pendekatan interpretif berdasarkan rintisan pikiran George Harbert Mead (Ardianto. 2007: 135). Blumer beranggapan peneliti perlu meletakkan empatinya dengan pokok materi yang akan dikaji, berusaha memasuki pengalaman objek yang diteliti, dan berusaha untuk memahami nilai-nilai yang dimiliki dari tiap individu. Pendekatan ilmiah dari Mahzab Chicago menekankan pada riwayat hidup, studi kasus, buku harian (Diary), autobiografi, surat, interview tidak langsung, dan wawancara tidak terstruktur (Wibowo. 2007).
Mahzab Iowa dipelopori oleh Manford kuhn dan mahasiswanya (1950-1960an), dengan melakukan pendekatan kuantitatif, dimana kalangan ini banyak menganut tradisi epistemologi dan metodologi post-positivis (Ardianto. 2007: 135). Kuhn yakin bahwa konsep interaksi simbolik dapat dioprasionalisasi, dikuantifikasi, dan diuji. Mahzab ini mengembangkan beberapa cara pandang yang baru mengenai ”konsep diri” (West-Turner. 2008: 97-98). Kuhn berusaha mempertahankan prinsip-prinsip dasar kaum interaksionis, dimana Kuhn mengambil dua langkah cara pandang baru yang tidak terdapat pada teori sebelumnya, yaitu: (1) memperjelas konsep diri menjadi bentuk yang lebih kongkrit; (2) untuk mewujudkan hal yang pertama maka beliau menggunakan riset kuantitatif, yang pada akhirnya mengarah pada analisis mikroskopis (LittleJohn. 2005: 279). Kuhn merupakan orang yang bertanggung jawab atas teknik yang dikenal sebagai ”Tes sikap pribadi dengan dua puluh pertanyaan [the Twenty statement self-attitudes test (TST)]”. Tes sikap pribadi dengan dua puluh pertanyaan tersebut digunakan untuk mengukur berbagai aspek pribadi (LittleJohn. 2005: 281). Pada tahap ini terlihat jelas perbedaan antara Mahzab Chicago dengan Mahzab Iowa, karena hasil kerja Kuhn dan teman-temannya menjadi sangat berbeda jauh dari aliran interaksionisme simbolik. Kelemahan metode Kuhn ini dianggap tidak memadai untuk menyelidiki tingkah laku berdasarkan proses, yang merupakan elemen penting dalam interaksi. Akibatnya, sekelompok pengikut Kuhn beralih dan membuat Mahzab Iowa ”baru”.
Mahzab Iowa baru dipelopori oleh Carl Couch, dimana pendekatan yang dilakukan mengenai suatu studi tentang interaksi struktur tingkah laku yang terkoordinir, dengan menggunakan sederetan peristiwa yang direkam dengan rekaman video (video tape). Inti dari Mahzab ini dalam melaksanakan penelitian, melihat bagaimana interaksi dimulai (openings) dan berakhir (closings), yang kemudian melihat bagaimana perbedaan diselesaikan, dan bagaimana konsekuensi-konsekuensi yang tidak terantisipasi yang telah menghambat pencapaian tujuan-tujuan interaksi dapat dijelaskan. Satu catatan kecil bahwa prinsip-prinsip yang terisolasi ini, dapat menjadi dasar bagi sebuah teori interaksi simbolik yang terkekang di masa depan (LittleJohn. 2005: 283).
PENJELASAN TEORI INTERAKSI SIMBOLIK
Teori Interaksi Simbolik yang masih merupakan pendatang baru dalam studi ilmu komunikasi, yaitu sekitar awal abad ke-19 yang lalu. Sampai akhirnya teori interaksi simbolik terus berkembang sampai saat ini, dimana secara tidak langsung SI merupakan cabang sosiologi dari perspektif interaksional (Ardianto. 2007: 40).

Interaksi simbolik menurut perspektif interaksional, dimana merupakan salah satu perspektif yang ada dalam studi komunikasi, yang barangkali paling bersifat ”humanis” (Ardianto. 2007: 40). Dimana, perspektif ini sangat menonjolkan keangungan dan maha karya nilai individu diatas pengaruh nilai-nilai yang ada selama ini. Perspektif ini menganggap setiap individu di dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan, berinteraksi di tengah sosial masyarakatnya, dan menghasilkan makna ”buah pikiran” yang disepakati secara kolektif. Dan pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa setiap bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh setiap individu, akan mempertimbangkan sisi individu tersebut, inilah salah satu ciri dari perspektif interaksional yang beraliran interaksionisme simbolik.
Teori interaksi simbolik menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi, serta inti dari pandangan pendekatan ini adalah individu (Soeprapto. 2007). Banyak ahli di belakang perspektif ini yang mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Mereka mengatakan bahwa individu adalah objek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain.
Menurut Ralph Larossa dan Donald C. Reitzes (1993) dalam West-Turner (2008: 96), interaksi simbolik pada intinya menjelaskan tentang kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lain, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana cara dunia membentuk perilaku manusia.
Interaksi simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna yang berasal dari pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self), dan hubungannya di tengah interaksi sosial, dan tujuan bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterpretasi makna di tengah masyarakat (Society) dimana individu tersebut menetap. Seperti yang dicatat oleh Douglas (1970) dalam Ardianto (2007: 136), Makna itu berasal dari interaksi, dan tidak ada cara lain untuk membentuk makna, selain dengan membangun hubungan dengan individu lain melalui interaksi.
Definisi singkat dari ke tiga ide dasar dari interaksi simbolik, antara lain:
(1) Pikiran (Mind) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain,
(2) Diri (Self) adalah kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the-self) dan dunia luarnya, dan
(3) Masyarakat (Society) adalah jejaring hubungan sosial yang diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.”Mind, Self and Society” merupakan karya George Harbert Mead yang paling terkenal (Mead. 1934 dalam West-Turner. 2008: 96), dimana dalam buku tersebut memfokuskan pada tiga tema konsep dan asumsi yang dibutuhkan untuk menyusun diskusi mengenai teori interaksi simbolik.
Tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi simbolik antara lain:
1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
2. Pentingnya konsep mengenai diri,
3. Hubungan antara individu dengan masyarakat.
Tema pertama pada interaksi simbok berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia, dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi, karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang dapat disepakati secara bersama. Hal ini sesuai dengan tiga dari tujuh asumsi karya Herbert Blumer (1969) dalam West-Turner (2008: 99) dimana asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
1. Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka,
2. Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia,
3. Makna dimodifikasi melalui proses interpretif.
Tema kedua pada interaksi simbolik berfokus pada pentingnya ”Konsep diri” atau ”Self-Concept”. Dimana, pada tema interaksi simbolik ini menekankan pada pengembangan konsep diri melalui individu tersebut secara aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya. Tema ini memiliki dua asumsi tambahan, menurut LaRossan & Reitzes (1993) dalam West-Turner (2008: 101), antara lain:
1. Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain,
2. Konsep diri membentuk motif yang penting untuk perilaku.
Tema terakhir pada interaksi simbolik berkaitan dengan hubungan antara kebebasan individu dan masyarakat, dimana asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada akhirnya tiap individu-lah yang menentukan pilihan yang ada dalam sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini adalah untuk menjelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses sosial. Asumsi-asumsi yang berkaitan dengan tema ini adalah:
1. Orang dan kelompok masyarakat dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial,
2. Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.
Rangkuman dari hal-hal yang telah dibahas sebelumnya mengenai tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang berkaitan dengan interaksi simbolik, dan tujuh asumsi-asumsi karya Herbert Blumer (1969) adalah sebagai berikut:
Tiga tema konsep pemikiran Mead
• Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
• Pentingnya konsep diri,
• Hubungan antara individu dengan masyarakat.
Tujuh asumsi karya Herbert Blumer
• Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka,
• Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia,
• Makna dimodifikasi melalui sebuah proses interpretif,
• Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain,
• Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku,
• Orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial,
• Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.

DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro dan Bambang Q-Anees. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Effendy, Onong Uchjana. 1989. Kamus Komunikasi. Bandung: Mandar Maju.
Kam. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ke-3 – Cetakan 1.Jakarta: Balai Pustaka.
LittleJohn, Stephen W. 2005. Theories of Human Communication – Fifth Edition. Terjemahan edisi Indonesia 1 (Chapter 1-9), dan edisi Indonesia 2 (Chapter 10-16).
Mulyana, Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rogers, Everett. M. 1994. A History of Communication Study: A Biographical Approach. New York:The Free Press.
West, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Buku 1 edisi ke-3. Terjemahan. Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta: Salemba Humanika.
Sumber diambil dari,: http://baguz01.blogspot.com/2012/04/sejarah-teori-interaksi-simbolik.html#ixzz1yinKOFDn di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
Contoh penelitian yang menggunakan Teori Interaksionalisme Simbolis       :

Pelacuran Remaja

Penulis : Arinta Erma Apriliani

Sumber            : eprints.undip.ac.id/7778/1/ABSTRAKSI_dianita.pdf di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
Abstrak :

Pekerja seks komersial di kalangan siswi SMA bukan menjadi suatu fenomena yang baru lagi di mata kita. Tetapi selama ini yang melatar belakangi pelajar SMA terjun dalam dunia prostitusi selalu denganpermasalahan ekonomi. Maka permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian ini yaitu mengenai makna seks komersial di kalangan siswi SMA serta stereotip lingkungan sosial terhadap profesi yang dijalaninya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mencoba memberikan interpretative mendalam tentang makna dan stereotip pekerja seks komersial di kalangan siswi SMA yang sesuai dengan data yang diperoleh di lapangan yang akan dianalisis secara kualitatif. Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan perspektif interaksi simbolik yang memahami makna dan perilaku manusia yang subyektif dan interpretative. Penelitian ini mengambil lokasi di Surabaya dengan subyek penelitian adalah para siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN). Data diperoleh dengan melakukan pengamatan dan wawancara mendalam dengan subyek penelitian yang dipilih secara purposive. Teori dalam penelitian ini menggunakan teori interaksi simbolik sebagai teori pokok. Menurut Herbert Blumer mengemukakanbahwa interaksi simbolik bertumpu pada tiga premis, yaitu (1) Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu bagi mereka, (2) Makna tersebut berasal dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain, (3) Makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial berlangsung.
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa makna seks komersial di kalangan siswi SMA adalah sebagai suatu kepuasan seksual. Uang bukan lagi menjadi hal utama dalam prostitusi. Kedua, seks komersial bermakna sebagai suatu kepuasan pelampiasan. Ketiga, bagi kalangan siswi SMA seks komersial bermakna sebagai kepuasan perhatian yang diperoleh dalam dunia prostitusi. Stereotip yang muncul terhadap lingkungan sosialnya dengan profesi yang dijalaninya, masih mendapatkan cap buruk dalam lingkungan sosialnya khususnya di sekolah.
Keyword :
Pemaknaan, Pelacuran remaja, Interaksionisme simbolik

Tindakan Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan (StudiPemaknaan Hutan dan Pemberlakuan PHBM PadaMasyarakat Desa Karanggeneng, Wilayah BKPH Sonde,Kabupaten Ngawi)

Penulis : Widodo Raharjo

Sumber :http://ml.scribd.com/doc/95277428/Interaksionisme-Simbolik-Tindakan-Masyarakat-Dalam-Pengelolaan-Hutan-Abstrak di akses pada tanggal 20 Juni 2012.

ABSTRAK

Tanggung jawab kelestarian hutan bukan hanya terletak pada pemerintah semata, tetapimenjadi tanggungjawab bersama seluruh komponen warga negara Indonesia tanpa terkecuali. PT.PERHUTANI (Persero) sebagai kepanjangan tangan pemerintah dalam pengelolaan hutan sudahmulai merubah pola kerjanya dari pola terpusat menjadi pola kemitraan berbasis masyarakatmelalui program PHBM sejak tahun 2001. Masyarakat di Kabupaten Ngawi, khususnyamasyarakat sekitar Hutan Sonde yang berada di wilayah BKPH Sonde sebagian besar merupakanmasyarakat desa hutan yang dalam sisi kehidupannya tidak lepas dari keberadaan hutan BKPHSonde.Penelitian ini adalah upaya untuk memahami pemaknaan hutan sebagai bagian darikehidupan masyarakat yang mempengaruhi tindakan masyarakat dalam pemanfaatan hutan.Disamping pemaknaan dan tindakan tersebut, penerapan program PHBM oleh Perhutani jugaberpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Desa Karanggeneng. Penelitian ini dibandingkandengan penelitian yang ada sebelumnya yang juga meneliti tentang pemberlakuan programPHBM adalah terletak pada sisi pendekatan sosiologis yang lebih banyak dibahas dalampenelitian ini.Pendekatan yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.Penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik dari Herbert Blumer dalammemahami permasalahan penelitian, yaitu mengenai pemaknaan hutan oleh masyarakat DesaKaranggeneng dalam hubungannya dengan tindakan masyarakat dalam pengelolaan hutan BKPHSonde. Metode pencarian data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melalui wawancarasecara mendalam, dokumentasi serta observasi partisipatoris. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan. Pertama ,pemaknaan masyarakat Desa Karanggeneng terhadap hutan BKPH Sonde dipengaruhi olehtingkat interaksi serta historis atau pengalaman individu dalam bersentuhan dengan hutan. Kedua ,tindakan masyarakat Desa Karanggeneng dalam memanfaatkan dan mengelola hutan BKPHSonde dipengaruhi oleh pemaknaan yang mereka kenakan terhadap hutan BKPH Sonde. Ketiga ,akumulasi dari pemaknaan dan tindakan masyarakat terhadap hutan serta pemberlakuan programPHBM di hutan BKPH Sonde memunculkan pola tindakan masyarakat Desa Karanggenengdalam mengelola hutan BKPH Sonde yang lebih bertanggung jawab.
Kata kunci : program PHBM, pemaknaan, tindakan, pemanfaatan/pengelolaan hutan
 
TEORI PEMBELAJARAN SOSIAL

Albert Bandura lahir di Mudane Kanada, 4 Desember 1925. Dia adalah seorang psikolog. Ia menerima gelar sarjana muda di bidang psikologi University of British of Columbia pada tahun 1949. Kemudian dia masuk University of Iowa, tempat di mana dia meraih gelar Ph.D tahun 1952. Baru setelah itu dia menjadi sangat berpengaruh dalam tradisi behavioris dan teori pembelajaran.
Tahun 1953, dia mulai mengajar di Standford University. Di sini, dia kemudian bekerja sama dengan salah seorang anak didiknya, Richard Walters. Buku pertama hasil kerja sama mereka berjudul Adolescent Aggression terbit tahun 1959. Bandura menjadi presiden APA tahun 1973, dan menerima APA Award atas jasa-jasanya dalam Distinguished Scientific Contributions tahun 1980.
Teori-teori Albert Bandura banyak di aplikasikan dalam bidang pendidikan terutama pada pembelajaran sosial (social learning theory). Teori pembelajaran sosial ini pada awalnya dinamakan sebagai “Teori Sosial Kognitif” oleh Bandura sendiri (Moore, 2002). Teori pembelajaran sosial menyatakan bahwa faktor-faktor sosial, kognitif dan tingkah laku memainkan peranan penting dalam pembelajaran (Santrock, 2001). Faktor kognitif akan mempengaruhi wawasan pelajar tentang pemahaman; sementara faktor sosial, termasuk perhatian pelajar tentang tingkah laku dan imitasi ibu bapaknya, akan mempengaruhi tingkah laku pelajar tersebut.
Teori pembelajaran sosial menganggap manusia sebagai makhluk yang aktif, berupaya membuat pilihan dan menggunakan proses-proses perkembangan untuk menyimpulkan peristiwa serta berkomunikasi dengan orang lain. Perilaku manusia tidak ditentukan oleh pengaruh lingkungan dan sejarah perkembangan seseorang atau bertindak pasif terhadap pengaruh lingkungan. Dalam banyak hal, manusia adalah selektif dan bukan entiti yang pasif, yang boleh dipengaruhi oleh keadaan lingkungan mereka.
Bandura (1977) menyatakan bahwa "Learning would be exceedingly laborious, not to mention hazardous, if people had to rely solely on the effects of their own action to inform them what to do. Fortunately, most human behavior is learned observationally through modeling: from observing others one form an idea of her new behavior are performed, and on later occasion this coded information serves as a guide for action".
Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial jenis ini. Contohnya, seorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahawa judi itu adalah tidak baik.
Teori belajar ini juga dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana seseorang belajar dalam keadaan atau lingkungan yang sebenarnya. Bandura (1977) menghipotesiskan bahwa tingkah laku (B = behavior), lingkungan (E = environment) dan kejadian-kejadian internal pada pelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P = perception) adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh atau berkaitan (interlocking). menurut Albert Bandura lagi, tingkah laku sering dievaluasi, iaitu bebas dari timbal balik sehingga boleh mengubah kesan-kesan personal seseorang. Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.
Teori belajar sosial menekankan, bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan; lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, sebagaimana (Kardi, S., 1997: 14) bahwa “sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. Inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan permodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu.
Ada dua jenis pembelajaran melalui pengamatan (observational learning).
1.    Pertama, pembelajaran melalui pengamatan dapat terjadi melalui kondisi yang dialami orang lain atau vicarious conditioning. Contohnya, seorang pelajar melihat temannya dipuji atau ditegur oleh gurunya kerana perbuatannya, maka ia kemudian meniru melakukan perbuatan lain yang tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya. Kejadian ini merupakan contoh dari penguatan melalui pujian yang dialami orang lain atau vicarious reinforcement.
2.    Kedua, pembelajaran melalui pengamatan meniru perilaku suatu model meskipun model itu tidak mendapatkan penguatan atau pelemahan pada saat pengamat itu sedang memperhatikan model itu mendemonstrasikan sesuatu yang ingin dipelajari oleh pengamat tersebut dan mengharapkan mendapat pujian atau penguatan apabila menguasai secara tuntas apa yang dipelajari itu. Model tidak harus diperagakan oleh seseorang secara langsung, tetapi kita dapat juga menggunakan seseorang pemeran atau visualisasi tiruan sebagai model.
Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri (kognitif) dan lingkungan. Untuk menjelaskan pandangan ini, beliau telah mengemukakan teori tentang imitasi. Bersama dengan Walter (1963) dia mengadakan penelitian pada anak-anak dengan cara menonton orang dewasa memukul, mengetuk dengan tukul besi dan menumbuk sambil menjerit-jerit ‘sockeroo’ dalam film. Setelah menonton film anak-anak ini diarah bermain di ruang permainan dan terdapat patung seperti yang ditayangkan dalam film. Setelah kanak-kanak tersebut melihat patung tersebut, mereka meniru aksi-aksi yang dilakukan oleh orang yang mereka tonton dalam film.
Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).
Prosedur-prosedur Social learning:
Conditioning
Prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral pada dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan; Reward (hadiah), Punishment (hukuman). Dasar pemikirannya: Sekali seorang mempelajari perbedaan antara perilaku-perilaku yang menghasilkan ganjaran (reward) dengan perilaku-perilaku yang mengakibatkan hukuman (punishment), sehingga dia bisa memutuskan sendiri perilaku mana yang akan dia perbuat.
Imitation
Imitation (peniruan). Dalam hal ini, orang tua dan guru diharapkan memainkan peran penting sebagai seorang model/tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral. Kualitas kemampuan peserta didik dalam melakukan perilaku social hasil pengamatan terhadap model tersebut, antara lain bergantung pada ketajaman persepsinya mengenai ganjaran dan hukuman yang berkaitan dengan benar dan salahnya perilaku yang ia tiru dari model tadi. Selain itu, tingkat kualitas imitasi tersebut juga bergantung pada persepsi peserta didik “siapa “ yang menjadi model. Maksudnya, semakin piawai dan berwibawa seorang model, semakin tinggi pula kualitas imitasi perilaku social dan moral peserta didik tersebut. Jadi dalam Social Learning, anak belajar karena contoh lingkungan. Interaksi antara anak dengan lingkungan akan menimbulkan pengalaman baru bagi anak-anak. 
Sumber diambil dari : http://www.psychologymania.com/2011/11/albert-bandura-tokoh-pembelajaran.html di akses pada tanggal 20 Juni 2012.

Contoh penelitian yang menggunakan Teori Pembelajaran Sosial      :

Penulis : Mariana Ekawati

Sumber            : alumni.unair.ac.id/kumpulanfile/4048835274_abs.pdf di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
Sosialisasi Anak-Anak Tuna Grahita

ABSTRAK

Proses sosialisasi yang diterapkan orang tua pada anak normal. Tentunya berbeda dengan proses sosialisasi yang diterapkan orang tua terhadap anak tunagrahita, dan dengan kelemahannya dalam hal komunikasi, interaksi, adaptasi, maupun intelektual (berpikir) menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Sehingga dijadikan fokus dalam penelitian ini, ialah bagaimana proses sosialisasi orang tua terhadap anak tunagrahita pada keluarga miskin dan bagaimana proses interaksi sosial anak tunagrahita tersebut dalam lingkungan keluarga dan sekolah. Penelitian ini merupakan tipe penelitian deskriptif, dengan menggunakan teori pembelajaran sosial, sosialisasi (proses sosialisasi), dan interaksi simbolik. Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara mendalam atau indepth interview, kemudian data dianalisis dengan menggunakan tehnik analisis kualitatif.
Hasil penelitian ini adalah proses sosialisasi yang diterapkan masing-masing orang tua pada anaknya yang tunagrahita ialah proses sosialisasi partisipatif, yang disertai dengan corak hubungan orangtua-anak yang berpolakan demokrasi-otokrasi. Proses interaksi sosial anak-anak tunagrahita hanya terhambat pada gangguan berkomunikasi saja, yakni berbicara dan penyampaian makna yang ingin mereka utarakan, selebihnya mereka dapat berinteraksi dengan keluarga dan teman-teman sebayanya yang normal dengan baik. Pendekatan dalam proses sosialisasi yang ditunjukkan berbeda dengan proses sosialisasi yang diterapkan oleh orang tua pada anaknya yang normal, misalnya saja, pengertian materi pembelajaran yang disampaikan melalui musik. Komunikasi non verbal berperan penting dalam penyampaian makna yang ditujukan pada anak tunagrahita, yang memiliki keterbatasan dalam mempelajari pengetahuan abstrak, dan menggeneralisasi hal-hal yang baru.
Kata kunci: Retardasi Mental, Keterbelakangan Mental, Tunagrahita, Proses Sosialisasi, Interaksi Simbolik.
 
TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL

Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai "organ" yang bekerja demi berfungsinya seluruh "badan" secara wajar.[1] Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan "upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif." Bagi Talcott Parsons, "fungsionalisme struktural" mendeskripsikan suatu tahap tertentu dalam pengembangan metodologis ilmu sosial, bukan sebuah mazhab pemikiran
Hingga pertengahan abad, fungsionalisme menjadi teori yang dominan dalam perspektif sosiologi. Teori fungsional menjadi karya Talcott Parsons dan Robert Merton dibawah pengaruh tokoh – tokoh yang telah dibahas diatas. Sebagai ahli teori yang paling mencolok di jamannya, Talcott Parson menimbulkan kontroversi atas pendekatan fungsionalisme yang ia gulirkan. Parson berhasil mempertahankan fungsionalisme hingga lebih dari dua setengah abad sejak ia mempublikasikan The Structure of Social Action pada tahun 1937. Dalam karyanya ini Parson membangun teori sosiologinya melalui “analytical realism”, maksudnya adalah teori sosiologi harus menggunakan konsep-konsep tertentu yang memadai dalam melingkupi dunia luar. Konsep-consep ini tidak bertanggungjawab pada fenomena konkrit, tapi kepada elemen-elemen di dallamnya yang secara analitis dapat dipisahkan dari elemen-elemen lainnya. Oleh karenanya, teori harus melibatkan perkembangan dari konsep-konsep yang diringkas dari kenyataan empiric, tentunya dengan segala keanekaragaman dan kebingungan-kebingungan yang menyertainya. Dengan cara ini, konsep akan mengisolasi fenomena yang melekat erat pada hubungan kompleks yang membangun realita sosial. Keunikan realism analitik Parson ini terletak pada penekanan tentang bagaimana konsep abstrak ini dipakai dalam analisis sosiologi. Sehingga yang di dapat adalah organisasi konsep dalam bentuk sistem analisis yang mencakup persoalan dunia tanpa terganggu oleh detail empiris.
Sistem tindakan diperkenalkan parson dengan skema AGILnya yang terkenal. Parson meyakini bahwa terdapat empat karakteristik terjadinya suatu tindakan, yakni Adaptation, Goal Atainment, Integration, Latency. Sistem tindakan hanya akan bertahan jika memeninuhi empat criteria ini. Dalam karya berikutnya , The Sociasl System, Parson melihat aktor sebagai orientasi pada situasi dalam istilah motivasi dan nilai-nilai. Terdapay berberapa macam motivasi, antara lain kognitif, chatectic, dan evaluative. Terdapat juga nilai-nilai yang bertanggungjawab terhadap sistem sosoial ini, antara lain nilai kognisi, apresiasi, dan moral. Parson sendiri menyebutnya sebagai modes of orientation. Unit tindakan olehkarenaya melibatkan motivasi dan orientasi nilai dan memiliki tujuan umum sebagai konsekuensi kombinasi dari nilai dan motivasi-motivasi tersebut terhadap seorang aktor.
Karya Parson dengan alat konseptual seperti empat sistem tindakan mengarah pada tuduhan tentang teori strukturalnya yang tidak dapat menjelaskan perubahan sosial. Pada tahun 1960, studi tentang evolusi sosial menjadi jawaban atas kebuntuan Parson akan perubahan sosial dalam bangunan teori strukturalnya. Akhir dari analisis ini adalah visi metafisis yang besar oleh dunia yang telah menimpa eksistensi manusia. Analisis parson merepresentasikan suatu usaha untuk mengkategorisasikan dunia kedalam sistem, subsistem, persyaratan-persyaratan system, generalisasi media dan pertukaran menggunakan media tersebut. Analisis ini pada akhirnya lebih filosofis daripada sosiologis, yakni pada lingkup visi meta teori. Pembahasan mengenai fungsionalisme Merton diawali pemahaman bahwa pada awalnya Merton mengkritik beberapa aspek ekstrem dan keteguhan dari structural fungsionalisme, yang mengantarkan Merton sebagai pendorong fungsionalisme kearah marxisme. Hal ini berbeda dari sang guru, Talcott Parson mengemukakan bahwa teorisi structural fungsional sangatlah penting.Parson mendukung terciptanya teori yang besar dan mencakup seluruhnya sedangkan parson lebih terbatas dan menengah.
Seperti penjelasan singkat sebelumnya, Merton mengkritik apa yang dilihatnya sebagai tiga postulat dasar analisis fungsional( hal ini pula seperti yang pernah dikembangkan oleh Malinowski dan Radcliffe brown. Adapun beberapa postulat tersebut antara lain:
  • Kesatuan fungsi masyarakat , seluruh kepercayaan dan praktik sosial budaya standard bersifat fungsional bagi masyarakat secara keseluruhan maupun bagi individu dalam masyarakat, hal ini berarti sistem sosial yang ada pasti menunjukan tingginya level integrasi. Dari sini Merton berpendapat bahwa, hal ini tidak hanya berlaku pada masyarakat kecil tetapi generalisasi pada masyarakat yang lebih besar.
  • Fungsionalisme universal , seluruh bentuk dan stuktur sosial memiliki fungsi positif. Hal ini di tentang oleh Merton, bahwa dalam dunia nyata tidak seluruh struktur , adat istiadat, gagasan dan keyakinan, serta sebagainya memiliki fungsi positif. Dicontohkan pula dengan stuktur sosial dengan adat istiadat yang mengatur individu bertingkah laku kadang-kadang membuat individu tersebut depresi hingga bunuh diri. Postulat structural fungsional menjadi bertentangan.
  • Indispensability, aspek standard masyarakat tidak hany amemiliki fungsi positif namun juga merespresentasikan bagian bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan. Hal ini berarti fungsi secara fungsional diperlukan oleh masyarakat. Dalam hal ini pertentangn Merton pun sama dengan parson bahwaada berbagai alternative structural dan fungsional yang ada di dalam masyarakat yang tidak dapat dihindari.
Argumentasi Merton dijelaskan kembali bahwa seluruh postulat yang dijabarakan tersebut berstandar pada pernyataan non empiris yang didasarakan sistem teoritik. Merton mengungkap bahwa seharusnya postulat yang ada didasarkan empiric bukan teoritika. Sudut pandangan Merton bahwa analsisi structural fungsional memusatkan pada organisasi, kelompok, masyarakat dan kebudayaan, objek-objek yang dibedah dari structural fungsional harsuslah terpola dan berlang, merespresentasikan unsure standard.
Awalnya aliran fungsionalis membatasi dirinya dalam mengkaji makamirakat secara keseluruhan, namun Merton menjelaskan bahwa dapat juga diterapkan pada organisasi, institusi dan kelompok. Dalam penjelasan ini Merton memberikan pemikiran tentang the middle range theory. Merton mengemukakan bahwa para ahli sosiologi harus lebih maju lagi dalam peningkatan kedisiplinan dengan mengembangkan “teori-teori taraf menengah” daripada teori-teori besar. Teori taraf menengah itu didefinisikan oleh Merton sebagai : Teori yang terletak di antara hipotesa kerja yang kecil tetapi perlu, yang berkembang semakin besar selama penelitian dari hari ke hari, dan usaha yang mencakup semuanya mengembangkan uato teori terpadu yang akan menjelaskan semua keseragaman yang diamati dalam perilaku social. Teori taraf menengah pada prinsipnya digunakan dalam sosiologi untuk membimbing penelitian empiris. Dia merupakan jembatan penghubung teori umum mengenai istem social yang terlalu jauh dari kelompok-kelompok perilaku tertentu, organisasi, ddan perubahan untuk mempertanggungjawabkan apa yang diamati, dan gambaran terinci secara teratur mengenai hal-hal tertentu yang tidak di generaliasi sama sekali. Teori sosiologi merupakan kerangka proposisi yang saling terhubung secara logis dimana kesatuan empiris bisa diperoleh.
The middle range theory adalah teori-teori yang terletak pada minor tetapi hipotesis kerja mengembangkan penelitian sehari-hari yang menyeluruh dan keseluruhan upaya sistematis yang inklusif untuk mengembangkan teori yang utuh. The middle range theory Merton ini memiliki berbagai pemahaman bahwa secara prinsip digunakan untuk panduan temuan-temuan empiris, merupakan lanjutan dari teori system social yang terlalu jauh dari penggolongan khusus perilaku social, organisasi, dan perubahan untuk mencatat apa yang di observasi dan di deskripsikan, meliputi abstraksi, tetapi ia cukup jelas dengan data yang terobservasi untuk digabungkan dengan proposisi yang memungkinkan tes empiris dan muncul dari ide yang sangat sederhana. Dalam hal ini Merton seakan melakukan tarik dan menyambung, artinya apa yang dia kritik terhadap fungsionalis merupakan jalan yang dia tempuh untuk menyambung apa yang dia pikirkan. Atau dianalogikan, Merton mengambil bangunan teori kemudian di benturkan setelah itu dia perbaiki lagi dengan konseptual yang menurut kami sangat menarik.
Para stuktural fungsional pada awalnya memustakan pada fungsi dalam struktru dan institusi dalam amsyarakat. Bagi Merton hal ini tidaklah demikian, karrena dalam menganalis hal itu , para fungsionalis awal cenderung mencampur adukna motif subjektif individu dengan fungsi stuktur atau institusi. Analisis fungsi bukan motif individu. Merton sendiri mendefinisikan fungsi sebagai konsekuensi-konsekuensi yang didasari dan yang menciptakan adaptasi atau penyesuian, karena selalu ada konsekuensi positif. Tetapi , Merton menambahkan konsekuensi dalam fakta sosial yang ada tidaklah positif tetapi ada negatifnya. Dari sini Merton mengembangkan gagasan akan disfungsi. Ketika struktur dan fungsi dpat memberikan kontribusi pada terpeliharanya sistem sosial tetapi dapat mengandung konsekuensi negative pada bagian lain.Hal ini dapat dicontohkan, struktur masyarakat patriarki c memberkan kontribusi positif bagi kaum laki-laki untuk memegang wewenang dalam keputusan kemasyarakatan, tetapi hal ini mengandung konsekuensi negative bagi kaum perempuan karena aspirasi mereka dalam keputusan terbatas. Gagasan non fungsi pun , dilontarkan oleh Merton. Merton mengemukakan nonfungsi sebagai konsekuensi tidak relevan bagi sistem tersebut. Dapatkonsekuensi positif dimasa lalu tapi tidak dimasa sekarang.Tidaklah dapat ditentukan manakah yang lebih penting fungsi-fungsi positif atau disfungsi. Untuk itu Merton menambahkan gagasan melalui keseimbangan mapan dan level analisis fungsional.
Dalam penjelasan lebih lanjut , Merton mengemukakan mengenai fungsi manifest dan fungsi laten.Fungsi manifest adalah fungsi yang dikehendaki, laten adalah yang tidak dikehendaki.Maka dalam stuktur yang ada, hal-hal yang tidak relevan juga disfungso laten dipenagruhi secara fungsional dan disfungsional. Merton menunjukan bahwa suatu struktur disfungsional akan selalu ada. Dalam teori ini Merton dikritik oleh Colim Campbell, bahwa pembedaan yang dilakukan Merton dalam fungsi manifest dan laten , menunjukan penjelasan Merton yang begitu kabur dengan berbagari cara. Hal ini Merton tidak secara tepat mengintegrasikan teori tindakan dengan fungsionalisme. Hal ini berimplikasi pada ketidakpasan antara intersionalitas dengan fungsionalisme structural. Kami rasa dalam hal ini pun Merton terlalu naïf dalam mengedepankan idealismenya tentang struktur dan dengan beraninya dia mengemukakan dia beraliran fungsionalis, tapi dia pun mengkritik akar pemikiran yang mendahuluinya. Tetapi, lebih jauh dari itu konsepnya mengenai fungsi manifest dan laten telah membuka kekauan bahwa fungsi selalu berada dalam daftar menu struktur. Merton pun mengungkap bahwa tidak semua struktur sosial tidak dapat diubah oleh sistem sosial. Tetapi beberapa sistem sosial dapat dihapuskan. Dengan mengakui bahwa struktur sosia dapat membuka jalan bagi perubahan sosial.
Analisi Merton tentang hubungan antara kebudayaan, struktur, dan anomi. Budaya didefinisikan sebagai rangkaian nilai normative teratur yang mengendalikan perilaku yang sama untuk seluruh anggota masyarakat. Stuktur sosial didefinisikans ebagai serangkaian hubungan sosial teratur dan memeprnagaruhi anggota masyarakat atau kelompok tertentu dengan cara lain. Anomi terjadi jika ketika terdapat disjungsi ketat antara norma-norma dan tujuan cultural yang terstruktur secara sosial dengan anggota kelompok untuk bertindak menurut norma dan tujuan tersebut. Posisi mereka dalam struktur makamirakat beberapa orang tidak mampu bertindakm menurut norma-norma normative . kebudayaan menghendaki adanya beberapa jenis perilaku yang dicegah oleh struktur sosial. Merton menghubungkan anomi dengan penyimpangan dan dengan demikian disjungsi antara kebudayan dnegan struktur akan melahirkan konsekuensi disfungsional yakni penyimpangan dalam masyarakat. Anomi Merton memang sikap kirits tentang stratifikasi sosial, hal ini mengindikasikan bahwa teori structural fungsionalisme ini aharus lebih kritis dengan stratifikasi sosialnya. Bahwa sturktur makamirakat yangselalu berstratifikasi dan masing-masing memiliki fungsi yang selama ini diyakini para fungsionalis, menurut dapat mengindikasikan disfungsi dan anomi. Dalam hal ini kami setuju dengan Merton,dalam sensory experiences yang pernah kami dapatkan, dimana ada keteraturan maka harus siap deng ketidakteraturan, dalam struktur yang teratur, kedinamisan terus berjalan tidak pada status di dalamnya tapi kaitan dalama peran. Anomi atau disfungsi cenderung hadir dipahami ketika peran dalam struktu berdasarkan status tidak dijalankan akibat berbagai factor. Apapun alasannya anomi dalam struktur apalagi yang kaku akan cenderung lebih besar. Dari sini, Merton tidak berhenti dengan deskripsi tentang struktur , akan tetapi terus membawa kepribadian sebagai produk organisasi struktur tersebut. Pengaruh lembaga atau struktur terhadap perilaku seseorang adalah merupakan tema yang merasuk ke dalam karya Merton, lalu tema ini selalu diilustrasikan oleh Merton yaitu the Self Fullfilling Prophecy serta dalam buku Sosial structure And Anomie. Disini Merton berusaha menunjukkan bagaimana struktur sosial memberikan tekanan yang jelas pada orang-orang tertentu yang ada dalam masyarakat sehingga mereka lebih , menunjukkan kelakuan non konformis ketimbang konformis. Menurut Merton, anomie tidak akan muncul sejauh masyarakkat menyediakan sarana kelembagaan untuk mencapai tujuan-tujuan kultur tersebut.
Dari berbagai penajabaran yang ada Pemahaman Merton membawa pada tantangan untuk mengkonfirmasi segala pemikiran yang telah ada. Hal ini terbukti dengan munculnya fungsionalisme gaya baru yang lebih jauh berbeda dengan apa yang pemikiran Merton. Inilah bukti kedinamisan ilmu pengetahuan, tak pelak dalam struktural fungsionalisme.
Sumber diambil dari:  http://id.wikipedia.org/wiki/Fungsionalisme_struktural di akses pada tanggal 20 Juni 2012.

Contoh penelitian yang menggunakan Teori Fungsionalisme Struktural        :

HUBUNGAN TINGKAT SOSIAL EKONOMI ORANG TUA DENGAN POLA PENDIDIKAN ANAK DI KECAMATAN RUNGKUT KOTA SURABAYA

Oleh : Rindawati ( Staf Pengajar di Jurusan Pendidikan Geografi FIS UNESA )

Sumber            :http://geografi.jurnal.unesa.ac.id/82_561/hubungan-tingkat-sosial-ekonomi-orang-tua-dengan-pola-pendidikan-anak-di-kecamatan-rungkut-kota-surabaya di akses pada tanggal 20 Juni 2012.

Abstrak : Penelitian ini mengkaji hubungan tingkat sosial ekonomi orang tua dan pola pendidikan terhadap anak di Kecamatan Rungkut Kota Surabaya. Dilakukannya penelitian di daerah tersebut karena daerah itu telah banyak mengalami perubahan akibat industrilisasi. Tujuan penelitian yang ingin di capai adalah untuk menganalisis hubungan tingkat sosial ekonomi orang tua dengan pola pendidikan terhadap anak.Teori yang digunakan untuk mengkaji adalah teori stratifikasi sosial dari Lensky dan teori struktural fungsional dari Talcot Parsons. Proses pengumpulan data menggunakan wawancara yang dilakukan terhadap 142 responden yaitu keluarga yang mempunyai anak usia 13 – 18 tahun. Penentuan sampel responden dilakukan dengan anak dari 9.027 populasi sedang analisis data menggunakan statistik rumus korelasi Spearman.Temuan data hasil analisis korelasi Spearman menyebutkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat sosial ekonomi orang tua dengan pola pendidikan orang tua terhadap anak yaitu sebesar 0,40189 dan p (rho) = 0,0001. Dengan demikian pola pendidikan demokrasi telah banyak dilakukan oleh orang tua teruatama dari golongan ekonomi sedang dan tinggi
Keyword: Pola Pendidikan Anak

STUDI DESKRIPTIF KUANTITATIF TENTANG FUNGSI ISTERI BEKERJA TERHADAP KELUARGA DI KELURAHAN MOJOSONGO KECAMATAN JEBRES KOTAMADYA SURAKARTA

Oleh    : Sugiharti

Sumber : http://digilib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=13073 di akses pada tanggal 20 Juni 2012.

ABSTRAK 

Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui fungsi isteri bekerja terhadap keluarga yang ditinjau secara sosiologis dan mengetahui permasalahan yang dihadapi isteri bekerja terhadap keluarga. Dalam penelitian ini menggunakan landasan Teori Fungsionalisme Struktural. Di dalam teori fungsionalisme structural, fungsi didefinisikan sebagai konsekuensi-konsekuensi yang dapat diamati yang menimbulkan adaptasi atau penyesuaian dari system tertentu. Fungsi sendiri dibagi menjadi dua, yaitu fungsi nyata (manifest) dan fungsi tersembunyi (latent). Fungsi nyata (manifest) adalah konsekuensi-konsekuensi objektif yang membantu penyesuaian atau adaptasi dari sistem dan disadari oleh para partisipan dalam sistem tersebut atau fungsi yang diharapkan. Sedangkan fungsi tersembunyi (latent) adalah fungsi yang tidak dimaksudkan atau disadari ataupun fungsi yang tidak diharapkan. Lokasi penelitian ini yaitu di Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kotamadya Surakarta. Pemilihan lokasi dengan pertimbangan bahwa sebagian besar wilayah Kelurahan Mojosongo adalah perumahan yang sebagian besar wanita yang tinggal adalah isteri bekerja, terutama bekerja di sektor pelayanan masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Untuk tekhnik pengambilan sampel adalah menggunakan sampel berjumlah 40 responden yang mewakili jumlah populasi isteri bekerja di Kelurahan Mojosongo Kecamatan Jebres Kotamadya Surakarta. Tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan dokumentasi. Tekhnik analisis data yang digunakan yaitu analisis dengan cara tabulasi kemudian diperoleh hasil prosentase. Dari hasil prosentase tersebut diolah, di deskripsikan, dan dibuat kesimpulan untuk menghasilkan data jadi. Secara ringkas dari hasil penelitian ini dapat penulis sampaikan bahwa adanya fungsi isteri bekerja terhadap keluarga. Fungsi tersebut meliputi fungsi tersembunyi (latent) , fungsi nyata (manifest), dan alternatif fungsi (functional alternatives). Fungsi tersembunyi (latent) yaitu fungsi yang tidak diharapkan dari isteri bekerja terhadap keluarga. Fungsi nyata (manifest) yaitu fungsi yang diharapkan dari isteri bekerja terhadap keluarga. Sedangkan alternatif fungsi (functional alternative) adalah sistem yang fungsional dapat diganti oleh unsur lain, akan tetapi kebutuhan fungsional tersebut masih tetap terpenuhi. Temuan penting dalam penelitian ini adalah adanya fungsi nyata (manifest), fungsi tersembunyi (latent), alternatif fungsi (functional alternatives) dan pengaruhnya terhadap keluarga. Adapun fungsi manifest adalah membantu ekonomi keluarga, biaya kesehatan anak, biaya pendidikan anak Sedangkan fungsi laten atau yang tidak diharapkan berkaitan dengan keluarga, yang ditandai dengan tingkat kemandirian istri yang cukup tinggi, adapun fungsi laten dari istri bekerja meliputi berkurangnya ketergantungan istri terhadap suami, isteri dapat memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan suami, adanya kegiatan rumah tangga yang terabaikan. Dampak dari fungsi laten istri bekerja membuat sebagian fungsi istri sebagai ibu rumah tangga menjadi terabaikan, oleh karena itu rumah tangga sebagai suatu sistem harus mencari cara agar bagian-bagian yang terabaikan tersebut dapat digantikan, cara alternatif yang paling sesuai adalah menggunakan jasa pembantu rumah tangga.

TEORI FEMINISME

            Di kalangan para aktivis gender, Simone de Beauvoir merupakan salah satutokoh yang harus ditelaah. Karyanya, ‘Le Deuxième Sexe’  (1949) dicatat sebagai karyaklasik yang memberikan penerangan tentang ketertindasan perempuan selama ini dantelah memberikan pengaruh yang cukup signifikan dan mendorong inspirasi gerakan-gerakan pembebasan perempuan. Dan jika dilihat dari sejarah perkembangan feminismeSimone de Beauvoir dianggap sebagai pelopor teori feminisme yang sudah lebihsubtantif dibandingkan dengan teori-teori yang sebelumnya.Secara umum pemikiran dari Simone de Beauvoir disebut dengan teorifeminisme. Teori feminisme sendiri memiliki beberapa definisi, Luce Irigaray menyebutkan bahwa konsep ‘feminisme’ adalah; “yang digambarkan oleh sistem sosialtentang pemberdayaan wanita”
            Pengertian feminisme sendiri dalam KBBI adalahgerakan wanita yg menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria.Sedangkan gagasan teori feminisme secara umum adalah kenyataan teori yang muncul berdasarkan dari kesadaran bahwa adanya penyimpangan dalam sejarah dan keyakinanakan posisi kaum wanita selama ini. Dalam perkembangan sejarahnya teori feminismememiliki banyak jenis aliran, namun Rose Mary Tong, dalam bukunya Feminist Thought(1989) mengelompokan aliran feminisme menjadi tiga yakni feminisme liberal,radikal, dan sosialis, namun saat ini muncul pula aliran baru seperti feminisme post-modern. Teori Simone de Beauvoir sendiri tergolong ke dalam teori Feminisme. Eksistensialis. Teori Feminisme Eksistensialis sendiri tergolong ke dalam teorifeminisme sosialis.Eksisitensialisme sendiri merupakan teori yang memandang segala fenomenadengan berpangkal kepada eksistensi manusia. Maksud dari eksistensi manusia sendiriadalah cara manusia berada di dunia ini.
            Martin Heidegger berpendapat bahwamanusia harus eksis karena ia terlempar begitu saja, bahwa adanya manusia adalahmenuju kematian. Karena cemas dan prihatin, manusia sepanjang hidupnya mencarimakna hidup bersama orang lain. Konsep keprihatinan dan konsep bersama denganorang lain inilah yang nantinya akan sering digunakan oleh Simone de Beauvoir dan para feminis lainnya dalam gerakan feminisme di seluruh dunia.
            Teori Simone de Beauvoir sendiri berawal dari terminologi dasar filsafateksistensialis, sehingga dalam teori tersebut terdapat banyak sumbangan konsep dari para filsuf eksistensialis seperti Heidegger dan Sarte. Dalam pemikirannya Simone deBeauvoir mengambil pengandaian dari Sarte yang terkenal yakni Le Regard (sorotanmata). Selain itu Simone de Beauvoir juga sependapat pada Sarte bahwa dalam relasimanusia selalu terjadi konflik intersubjektifitas, dimana masing-masing selalu berusahamenjadikan manusia yang lain sebagai objek dan tidak ingin dirinya yang menjadiobjek.Bagi Simone de Beauvoir penyebab mengapa kaum wanita tertindas adalahdimana keberadaan kaum wanita yang keadaannya kurang dihiraukan dan bukan subjek absolut seprti kaum pria. Sehingga memunculkan pandangan bahwa subjek absoulutadalah kaum pria, sedangkan kaum wanita hanyalah objek lain (Other). MenurutSimone de Beauvoir proses tersebut berawal dari fakta biologis seperti peranreproduktif, ketidakseimbangan hormon, kelemahan organ tubuh wanita, dan sebaginyayang digabungkan dengan sejarah patriarka hingga akhirnya kaum wanita disudutkankepada peran reproduksi dan domestik dan tanpa disadari sebenarnya wanita telah digiring kepada definisi makhluk yang tidak berkesadaran (être en soi). Hal inilah yangmenjadikan dominasi terhadap kaum wanita sepanjang sejarah.
Sumber diambil dari : http://www.scribd.com/doc/61426763/Simone-de-Beauvoir, di akses pada tanggal 20 Juni 2012. Di ambil dari BAB I  Garis Besar Pemikiran Simone de Beauvoir.
Contoh penelitian yang menggunakan Teori Feminisme        :

Citra Perempuan Dalam Novel Cintrong Paju-Pat Karya Suparto Brata

Oleh    : Metti Dwi Nurlita

Sumber: http://uap.unnes.ac.id/data/skripsi/abstrak/ppt/citra_perempuan_dalam_novel_ci_2102407153.ppt. di akses pada tanggal 20 Juni 2012

Abstrak 
viii ABSTRAK Nurlita, Metti Dwi. 2011. Citra Perempuan dalam Novel Cintrong Paju-Pat Karya Suparto Brata. Skripsi. Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Drs. Sukadaryanto, M. Hum dan Pembimbing II Dr. Teguh Supriyanto, M. Hum. Kata kuci: Citra Perempuan, Feminisme, Novel Cintrong Paju-Pat. Tokoh perempuan sangat dominan dimunculkan pada novel Cintrong Paju-Pat. Tokoh-tokoh perempuan dalam novel CPP memiliki citra pribadi yang berbeda-beda. Tokoh Lirih adalah seorang gadis desa yang cerdas, berkeinginan kuat bisa bekerja di gedung besar di Jakarta. Tokoh Abrit adalah seorang selebritis terkenal yang sangat cantik, sehingga disukai banyak laki-laki. Tokoh Langit adalah seorang pimpinan marketting disebuah perusahaan periklanan, sehingga penampilannya sangat tegas dan berwibawa. Tokoh Ibu Arum dan Ibu Kinyis adalah seorang ibu rumah tangga. Mereka terkadang ikut mencampuri urusan bisnis suaminya, perbuatan yang mereka lakukan malah membuat keadaan menjadi kacau. Tokoh Maniking, Madu dan Srinawang adalah tokoh tambahan yang dimunculkan sesekali saja dalam cerita. Tokoh Lirih Nagari memiliki karakter dan citra pribadi yang sangat mendukung ide-ide feminisme. Permasalahan yang di bahas dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana citra perempuan dalam novel Cintrong Paju-Pat? (2) Bagaimana pandangan feminisme pengarang tentang perempuan dalam novel Cintrong Paju-Pat karya Suparto Brata? Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui citra tokoh perempuan dalam novel Cintrong Paju-Pat karya Suparto Brata dan (2) mengetahui pandangan feminisme pengarang tentang perempuan dalam novel Cintrong Paju-pat karya Suparto Brata. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tokoh dan penokohan, toeri citra perempuan dan teori feminisme. Penelitian ini mengacu pada teori feminisme dari Tong dan menggunakan pendekatan feminis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis struktural. Sasaran penelitian ini adalah tokoh perempuan serta sikap tokoh perempuan dalam menjalani hidupnya sebagai perwujudan citra diri perempuan. Data yang digunakan adalah peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh perempuan baik berupa dialog maupun deskripsi pengarang yang memperlihatkan citra diri perempuan dan pandangan feminisme pengarang. Sumber data yang digunakan adalah teks cerita novel Cintrong Paju-Pat karya Suparto Brata yang dicetak oleh Narasi pada tahun 2010 dengan tebal 311 halaman. Teknik pengumpulan data adalah teknik heuristik/ baca dan teknik catat. Teknis analisis data menggunakan teknik analisis struktural. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa citra pribadi perempuan dapat digambarkan melalui cita fisik yaitu gambaran perempuan berdasarkan penampilannya, citra perilaku yaitu penggambaran perempuan berdasarkan perilakunya, citra psikis yaitu penggambaran citra diri berdasarkan kejiwaannya dan citra sosialnya menunjukan gambaran perempuan dalam masyarakat. Melalui penggambaran citra pribadi tersebut, dapat diketahui kehidupan perempuan dalam kesehariannya. Melalui analisis citra pribadi tokoh perempuan, dapat diketahui tokoh tersebut termasuk tokoh protagonis atau antagonis. Citra fisik perempuan yang ditunjukan dalam novel CPP yaitu perempuan Jawa adalah perempuan cantik, wajahnya runcing, bersih, senyumnya manis, rambutnya tebal, lehernya panjang, tubuhnya proporsional, payudaranya montok, bokongnya seperti bokong skuter. Citra perilaku yang ditunjukan bahwa perempuan Jawa adalah perempuan yang sopan, suka menolong, tidak suka menyakiti orang lain dan selalu bekerja keras untuk mewujudkan cita-citanya, sedangkan perempuan Jawa yang menganggap dirinya priyayi perilakunya selalu merendahkan orang lain. Citra psikis perempuan Jawa adalah perempuan yang kuat dan berani sedangkan Perempuan Jawa yang menganggap dirinya dari golongan priyayi akan selalu ingin dihormati. Citra sosial perempuan Jawa adalah perempuan yang pekerja keras dan ulet dalam pekerjaannya. Tokoh-tokoh perempuan yang ada dalam novel CPP tidak semuanya mendukung feminisme. Tokoh Bu Arum dan Bu Kinyis termasuk tokoh perempuan yang tidak mendukung femisme. Mereka masih mengunggulkan derajatnya, atau orang Jawa menyebutnya priyayi. Tindakan yang dilakukannya malah merendahkan derajat perempuan. Pandangan feminisme yang dimunculkan pengarang adalah feminisme eksistensialis. Tokoh perempuan dalam novel CPP tidak merasa rendah dengan tubuh perempuan yang dimilikinya. Tubuh perempuan juga bisa dibanggakan, tapi tubuh bukan satu-satunya yang dapat digunakan perempuan untuk bereksistensi. Perempuan dalam novel CPP merupakan perempuan yang berpendidikan, sehingga dapat menentukan nasibnya sendiri. Tokoh Abrit sebagai perempuan dapat menjadi wanita karir yaitu menjadi selebritis dengan tubuh cantik yang dimilikinya. Semua orang sangat memujinya. Tokoh lirih dan Langit juga memiliki citra fisik yang cantik, tetapi ia lebih memilih menjadi perempuan yang pintar dengan mengandalkan akal dan pikirannya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Setiap perempuan dapat menentukan nasibnya sendiri, dengan caranya sendiri. Para peneliti yang berminat dengan sastra, dapat mengkaji karya sastra yang lainnya untuk membahas lebih mendalam tentang citra perempuan. Peneliti selanjutnya juga dapat mengkaji karya sastra dari pengarang laki-laki yang bebeda untuk mengetahui malefeminis pengarang
Kata Kunci 
Citra Perempuan, Feminisme, Novel Cintrong Paju-Pat.

SUARA PEREMPUAN DALAM NOVEL SUNDA PUPUTON ‘BUAH HATI’ KARYA AAM AMILIA

Penulis : Retty Isnendes

Sumber :file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/197212021999032-RETTY_ISNENDES/Jurnal_FPBS-Suara_Perempuan_dalam_PUPUTON.pdf di akses pada tanggal 20 Juni 2012
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengungkapkan suara perempuan dalam novel Sunda Puputon ‘Buah Hati’ karya sastrawati Sunda, Aam Amilia.Ada dua tujuan yang ingin dicapai, yaitu tujuan teoritis dan tujuan praktis.Tujuan teoritis adalah memanfaatkan teori Feminisme yang sedang berkembangpesat di dunia akademik dan bidang kehidupan lainnya. Tujuan teoritis tersebutdigunakan untuk mengungkap dan menafsirkan suara-suara perempuan melalui:1) tubuh dan seksualitas tokoh perempuan, 2) bahasa dipergunakan tokohperempuan, 3) diksi yang ditampilkan tokoh perempuan, 4) reaksi tokoh perempuan atas relasi gender yang tidak seimbang, dan 5) budaya perempuan diantara budaya keseluruhan. Adapun tujuan praktis penelitian ini adalah timbulnya pemahaman dan kesadaran baru bagi perempuan untuk memperbaiki hidupnya di masa sekarang dan masa datang, serta kesadaran baru bagi laki-laki akan budaya androgini.
Metode penelitian menggunakan cara deskriptif-analitik. Dimulai dari menelaah data yang berupa teks, lalu mendeskripsikan yang koheren, kemudian mengutip lalu menganalisisnya. Teknik yang digunakan adalah analisis gender, yaitu menelaah kehidupan masyarakat sebagai satu sistem yang berdasarkan pada struktur dan relasi sosial antara perempuan dan laki-laki.
Hasil yang dicapai adalah pertama, kedudukan perempuan dalam sastra Sunda dan kedua, suara perempuan yang dicetuskan lewat tokoh sastra. Perempuan dalam sastra Sunda dalam penelitian ini mempunyai dua kedudukan, yaitu perempuan Sunda sebagai tokoh sastra dan perempuan Sunda sebagai penulis sastra. Manifestasi suara perempuan lewat tokoh utama dalam novel Puputon, Astri dan Mamay, dirangkum melalui butir-butir tentang: tubuh dan jiwa, bahasa, hak-hak istimewa, strategi yang dibangun dalam menghadapi konstruk sosial yang mendua, dan budaya perempuan di antara budaya keseluruhan, serta terekamnya proses kesadaran kedua tokoh. Butir-butir suara itu bisa sama antara Astri dan Mamay, juga bisa berbeda antara keduanya. Persamaan dan perbedaan itu bisa berada dalam ruang zona liar perempuan; perempuan dengan dirinya sendiri, ataupun dalam zona yang didominasi budaya patriarki, juga persentuhannya dengan budaya secara keseluruhan, sebagai bagian dari komunalitas dunia.***
Kata kunci: suara perempuan—gender—budaya Sunda

TEORI MARXISME
Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik.Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis.Marxisme mencakup materialisme dialektis dan materialisme historis serta penerapannya pada kehidupan sosial.
Marxisme atau komunisme lahir dari konteks masyarakat industri Eropa. Revolusi industry di Eropa pada abad-19, menciptakan kesenjangan sosial di masyarakat. Kesenjangan ini terjadi antara kaum borjuis    (pemilik modal ) dengan kaum proletat, kaum petani miskin dengan para tuan tanah, warload dan kapitalis (negara Cina). Kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan  proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud  kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah atau hasil kerjanya. Melihat  keadaan seperti itu, membuat beberapa tokoh  seperti Karl Marx dan Jurgen Habermas (neo-marxisme) melakukan kritik melalui pemikiran untuk merubah keadaan tersebut. Di bawah ini akan dibahas tentang tokoh marxis dan konsep pemikirannya serta aplikasi dalam kajian sastra. (Sumber : http://rsbikaltim.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_11.html, di akses pada tanggal 20 Juni 2012)
Marxisme merupakan dasar teori komunisme modern.Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan Friedrich Engels.Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme.Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar.Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, sementara hasil pekerjaan mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh.Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk menyejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx, kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Inilah dasar dari marxisme. Salah satu alasan mengapa Marxisme merupakan sistem pemikiran yang amat kaya adalah bahwa Marxisme memadukan tiga tradisi intelektual yang masing-masing telah sangat berkembang saat itu, yaitu filsafat Jerman, teori politik Perancis, dan ilmu ekonomi Inggris. Marxisme tidak bisa begitu saja dikategorikan sebagai "filsafat" seperti filsafat lainnya, sebab marxisme mengandung suatu dimensi filosofis yang utama dan bahkan memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap banyak pemikiran filsafat setelahnya. Itulah sebabnya, sejarah filsafat zaman modern tidak mungkin mengabaikannya.
Menurut Karl Marx, hal paling mendasar yang harus dilakukan manusia agar dapat terus hidup adalah mendapatkan sarana untuk tetap bertahan hidup. Apapun yang bisa menghasilkan pangan, sandang, dan papan bagi mereka, serta untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tidak ada yang bisa menghindar dari tugas memproduksi hal-hal itu. Namun demikian, ketika cara-cara produksi berkembang dari tahap primitif, segera muncul kebutuhan agar tiap individu dapat melakukan spesialisasi, karena menemukan bahwa mereka akan lebih makmur dengan cara itu. Lalu, orang menjadi bergantung satu dengan yang lain. Produksi sarana hidup kini menjadi aktivitas sosial, bukan lagi aktivitas individu.
Dalam saling ketergantungan ini (masyarakat), setiap orang ditentukan hubungannya dengan sarana produksi. "Apa yang kulakukan seorang diri untuk penghidupanku menentukan sebagian besar hal pokok dalam cara hidupku, dan sekaligus merupakan kontribusiku terhadap masyarakat secara keseluruhan." Hubungan ini juga menentukan siapa saja yang punya kepentingan sama denganku dalam pembagian produk sosial itu dan siapa saja yang bertentangan dengan kepentinganku. Dengan cara pandang seperti itu, terbentuklah kelas-kelas sosial ekonomi, yang juga mengakibatkan timbulnya konflik di antara kelas-kelas itu.
Sumber diambil dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Marxisme, di akses pada tanggal 20 Juni 2012

Contoh penelitian yang menggunakan Teori Marxisme          :

KEKERASAN TERHADAP TOKOH WANITA DALAM NOVEL PEREMPUAN KEMBANG JEPUN  KARYA LAN FANG

Oleh : Nunik Retno Wiyanti

Sumber : http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&ved=0CFkQFjAE&url=http%3A%2F%2F118.97.11.134%2Farchivelama%2Fskripsi%2Fpbsi%2F031060031592010-skripsi-pendidikan-bahasa-dan-sastra-indonesia-UAD-Novel-Kembang-Jepun-PBSI.pdf&ei=lUnnT4joOMa4rAf51t2ACQ&usg=AFQjCNFj5zzezgk0GGfe4vzcGTRnpltELw&sig2=eBm_ivdpl6wmbzVGkm24Vg diakses pada tanggal 20 Juni 2012

ABSTRAK

Sastra merupakan kreativitas dan rekaan pengarang berdasarkan pengalaman jiwa yang diperoleh dari lingkungan kehidupan di sekitarnya. Novel Perempuan Kembang Jepun dipilih  sebagai bahan penelitian karena novel Perempuan Kembang Jepun merupakan novel yang  menggambarkan ketidakadilan jender berupa tindakan kekerasan secara fisik, seksual, maupun  psikologis yang terjadi pada tokoh wanita pada zaman penjajahan Jepang.  Penelitian yang  berjudul “Kekerasan Terhadap Tokoh Wanita Dalam Novel Perempuan Kembang Jepun Karya  Lan Fang”  bertujuan untuk mengetahui (1) bentuk kekerasan fisik, seksual, dan psikologis yang terjadi pada tokoh wanita, (2) usaha-usaha yang dilakukan tokoh wanita, dan (3) tujuan hidup  tokoh  wanita.  Teori  yang  digunakan  untuk  menganalisis  penelitian  ini  adalah  dengan  menggunakan teori feminisme Marxis.
Subjek dalam penelitian ini adalah novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang.  Novel tersebut diterbitkan pada tahun 2006 pertama kali oleh PT Gramedia Pustaka Utama  Jakarta. Cetakan pertama tahun 2006 dengan tebal 288 halaman. Objek penelitian ini adalah  bentuk kekerasan yang terjadi pada tokoh wanita, usaha-usaha yang dilakukan tokoh wanita, dan  tujuan  hidup tokoh wanita. Metode  analisis  data  yang  digunakan  adalah dengan  analisis deskriptif kualitatif yaitu menggunakan kata-kata yang berupa data-data kualitatif. Metode pengumpulan data yaitu dengan metode baca dan catat terhadap objek. metode baca dan catat yaitu dengan membaca dan mencatat objek yang akan diteliti terlebih dahulu secara cermat dan  teliti. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu data. Kartu data digunakan  peneliti untuk mencatat hal-hal yang penting bagi penelitian dan juga dipakai agar peneliti mudah melihat kembali hal-hal penting yang telah dicatat sebelumya guna memperoleh data yang akurat.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Pertama, bentuk  kekerasan yang terjadi berupa kekerasan fisik, yaitu menempeleng, menendang, dan menginjak,  serta   memukul,   menjambak,   dan   meninju.   Kekerasan   seksual,   yaitu   berupa   meraba,  menyetubuhi, melirik, dan memperkosa. Kekerasan psikologis, yaitu berupa hinaan dan cemohan  serta makian dengan kata-kata kasar. Kedua, usaha-usaha yang dilakukan tokoh wanita yang  disebabkan (a)  dampak  dari  kekerasan  fisik,  tokoh  Matsumi  meninggalkan  klab  hiburan  “Kembang Jepun”, tokoh Lestari ingin pergi meninggalkan rumah yang penuh mimpi buruk itu,  tokoh Sulis menjadi perempuan yang pemberani. (b) dampak dari kekerasan seksual, tokoh  Matsumi tetap menghargai Sujono sebagai suaminya, tokoh Lestari tidak terobsesi pada laki-laki,  tokoh Sulis membenci cinta Sujono. (c) dampak dari kekerasan psikologis, tokoh Matsumi  membuat keputusan yakni meninggalkan Sujono, tokoh Lestari ingin bertemu dengan ibu  kandungnya, tokoh Sulis tidak mengalami dampak kekerasan psikologis. Ketiga, tujuan hidup tokoh wanita, yaitu tokoh Matsumi mempunyai keinginan dan ambisi untuk menjadi seorang geisha yang terkenal, tokoh Lestari ingin mengasuh anak-anak terlantar dan mengelola panti  asuhan,  tokoh  Sulis  ingin  bekerja  untuk  dirinya  sendiri  dan  lepas  dari  kemiskinan  dan kemelaratan..

TEORI TINDAKAN SOSIAL ATAU PERILAKU SOSIAL

Teori tindakan / aksi menurut Weber berusaha menafsirkan dan memahamitindakan sosial antar hubungan sosial serta menjelaskan hubungan kausal antar  berbagai faktor dari tindakan sosial tersebut. Selanjutnya menjelaskan tindakansosial melalui pemahaman subyektif yaitu suatu metode untuk memperoleh pemahaman yang valid mengenai arti-arti subyektif tindakan sosial.Melalui instropeksi bisa memberikan seseorang pemahaman akanmotifnya sendiri atau arti-arti subyektif tetapi tidak cukup memahami arti-artisubyektif alam tindakan-tindakan orang lain. Sebaliknya apa yang diminta adalahempati yaitu kemampuan untuk menempatkan diri dalam kerangka berfikir oranglain yang perilakunya mau dijelas dan situasi serta tujuan-tujuannya mau dilihatmenurut perspektif. Selanjutnya dikatakan pula bahwa aspek-aspek pengalamanindividu yang tidak dapat diamati tidak dapat dimasukkan dalam suatu analisailmiah mengenai perilaku manusia (Sumber : http://www.scribd.com/doc/68479491/12/Teori-Tindakan-Sosial diakses pada tanggan 20 Juni 2012)
Max Weber (1864-1920) lahir di Erfurt di Thungiria, Jerman, telah dididik di bidang hukum dan ekonomi. Ia menjadi mahaguru di universitas-universitas di Berlin, Freiburg, dan Heidelberg. Sebagai akibat tekanan jiwa, ia terpaksa berhenti sebagai mahaguru pada tahun 1900. selama 18 tahun ia tidak mengajar, tetapi melakukan riset dan menerbitkan banyak buku dan esei.
Mengenai teori perilaku sosial Max Weber atau sering kita dengar dengan Tindakan sosial, sebelumnya kita melihat apa yang disebut dengan sosiologi menurut Max Weber. Max Weber mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu tentang institusi-institusi sosial, sosiologi Weber adalah ilmu tentang perilaku sosial. Menurutnya terjadi suatu pergeseran tekanan ke arah keyakinan, motivasi, dan tujuan pada diri anggota masyarakat, yang semuanya memberi isi dan bentuk kepada kelakuannya.
Kata perikelakuan dipakai oleh Weber untuk perbuatan-perbuatan yang bagi sipelaku mempunyai ARTI SUBYEKTIF. Mereka dimaksudkan! Pelaku hendak mencapai suatu TUJUAN, atau ia didorong oleh MOTIVASI. Perikelakuan menjadi SOSIAL menurut Weber terjadi hanya kalau dan sejauh mana arti maksud subyektif dari tingkahlaku membuat individu memikirkan dan menunjukan suatu keseragaman yang kurang lebih tetap. Pelaku individual mengarahkan kelakuannya kepada penetapan penetapan atau harapan harapan tertentu yang berupa kebiasaan umum atau dituntut dengan tegas atau bahkan dibekukan dengan undang undang.
Orang yang dimotivir untuk membalas atas suatu penghinaan di masa lampau, mengorientasikan tindakannya kepada orang lain. Itu kelakuan sosial. Menurut Weber Kelakuan sosial juga berakar dalam kesadaran individual dan bertolak dari situ. Tingkah laku individu merupakan kesatuan analisis sosiologis. Bukan keluarga, negara, partai, dll.
Weber berpendapat bahwa studi kehidupan sosial yang mempelajari pranata dan struktur sosial dari luar saja, seakan-akan tidak ada inside-story, dan karena itu mengesampingkan pengarahan diri oleh individu, tidak menjangkau unsur utama dan pokok dari kehidupan sosial itu. Sosiologi sendiri  haruslah berusaha menjelaskan dan menerangkan kelakuan manusia dengan menyelami dan memahami seluruh arti sistem subyektif.

Weber membuat klasifikasi mengenai perilaku sosial atau tindakan sosial menjadi 4 yaitu :
  1. Kelakuan yang diarahkan secara rasional kepada tercapainya suatu tujuan. Dengan kata lain dapat dikatakan sebagai kesesuaian antara cara dan tujuan. Contohnya Bekerja Keras untuk mendapatkan nafkah yang cukup.
  2. Kelakuan yang berorientasi kepada nilai. Berkaitan dengan nilai – nilai dasar dalam masyarakat, nilai disini seperti keindahan, kemerdekaan, persaudaraan, dll. misalnya ketika kita melihat warga suatu negara yang berasal dari berbagai kalangan berbaur bersama tanpa membeda-bedakan.
  3. Kelakuan yang menerima orientasi dari perasaan atau emosi atau Afektif . contohnya seperti orang yang melampiaskan nafsu mereka.
  4. Kelakuan Tradisional bisa dikatakan sebagai Tindakan  yang tidak memperhitungkan pertimbangan Rasional. Contohnya Berbagai macam upacara \ tradisi yang dimaksudkan untuk melestarikan kebudayaan leluhur.
Sumber diambil dari : http://galihdanary.wordpress.com/2010/12/06/teori-perilaku-sosial-max-weber-teori-sosiologi-klasik/ diakses pada tanggal 20 Juni 2012

Contoh penelitian yang menggunakan Teori Tindakan Sosial atau Perilaku Sosial    :

PENGOBATAN TRADISIONAL PADA MASYARAKAT JAKARTA DALAM TINJAUAN SOSIOLOGI (STUDI KASUS TEMPAT PRAKTEK PENGOBATAN H. IRSHAD AHMAD DAN TEMPAT PRAKTEK PENGOBATAN USTADZ ABU AQILA)
Penulis : Busyeu Suksono

Sumber:
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/119472-D%2000927%20Perubahan%20hubungan--Abstrak.pdf diakses pada tanggal 20 Juni 2012

ABSTRAK

Skripsi ini membahas tentang pemanfaatan pengobatan tradisional masyarakat Jakarta. Penelitian dilakukan di dua tempat praktek pengobatan tradisional, yaitu tempat praktek pengobatan H. Irshad Ahmad (Matraman Jakarta Timur) dan tempat praktek pengobatan Ustadz Abu Aqila (Perumnas III Bekasi Timur dan Ciputat, Banten). Di dalam penulisan menggunakan teori Stratifikasi Sosial dan Tindakan Sosial. Dalam upaya mengumpulkan data, penulis menggunakan metode penelitian triangulasi (campuran). Namun dalam pembahasan lebih ditekankan pada unsur kuantitatifnya saja, sedangkan unsur kualitatif hanya sebagai data penunjang untuk melengkapi kekurangan dari data kuantitatif. Data yang sudah terkumpul kemudian diolah dengan menggunakan tabel distribusi frekwensi dan tabel silang, ditambah wawancara mendalam dengan 5 orang informan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Informan tersebut terdiri dari 2 orang pengobat tradisional (Battra) di tempat penelitian, dan 3 orang pasien yang sedang atau sudah pernah memanfaatkan pengobatan tradisional di tempat penelitian. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa ketidakmampuan pengobatan medis dalam menyembuhkan penyakit yang diderita oleh pasien secara efektif dan efisien ternyata menjadi faktor penting yang mendorong kebanyakan masyarakat Jakarta cenderung memanfaatkan pengobatan tradisional.
Kata Kunci : Pengobatan Tradisional, Masyarakat Jakarta

Potret Seniman Topeng Malangan (Tindakan Sosial Seniman Sanggar Asmorobangun Dalam Melestarikan Kesenian Topeng Malangan)

Penulis : Aprilia Trias Wahyuni

Sumber : http://elibrary.ub.ac.id/handle/123456789/33219 diakses pada tanggal 20 Juni 2012
Abstrak

Penelitian ini membahas mengenai pelestarian Kesenian Topeng Malangan (KTM) yang dilakukan oleh seniman. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa seniman memiliki posisi yang strategis dalam upaya pelestarian kesenian tradisional daerah Malang tersebut. Sedangkan, tujuan penelitian ini menjelaskan tindakan sosial seniman melalui peran seniman dalam melestarikan kesenian KTM. Seniman yang menjadi sumber penelitian berasal dari Sanggar Asmorobangun yang merupakan satu dari beberapa sanggar yang aktif di Malang. Penelitian ini menggunakan teori Erving Goffman mengenai dramaturgi dalam menganalisis tindakan sosial seniman sebagai upaya melestarikan KTM. Dalam penelitian ini konsep Goffman dibatasi bahwa aktivitas seni seperti pementasan, merupakan panggung depan (frontstage)yang dikatakan sebagai pementasan drama teater. Sedangkan aktivitas sehari-hari seniman dalam pelestarian KTM adalah panggung belakang (backstage). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Pendekatan tersebut digunakan untuk memahami kehidupan seniman dalam pelestarian KTM. Untuk mendapatkan data dari informan, digunakan teknik pengamatan terlibat dan wawancara mendalam. Hasil penelitian yang didapat adalah, bahwa KTM adalah kesenian tradisional daerah Malang yang berasal dari cerita epos Panji dari kerajaan¬kerajaan di Jawa Timur. Kesenian ini mengalami dinamika mulai dari zaman kerajaan hingga sesudah zaman kemerdekaan. Dan pada saat ini perkembangan KTM menurun ditandai dengan mati surinya beberapa sanggar (yang nantinya bisa berpengaruh pada regenerasi), serta berkurangnya minat masyarakat untuk mementaskan KTM dalam menggelar hajatan. Oleh karena itu, seniman menjadi elemen penting dalam pelestarian KTM. Dalam penelitian ini, untuk melestarikan kesenian tersebut, seniman melakukan tindakan sosial baik di dalam aktivitas seninya maupun dalam aktivitas sehari¬hari. Dalam aktivitas seni, seniman secara rutin menggelar acara gebyak atau tanggapan untuk mementaskan wayang topeng, maupun memproduksi kerajinan topeng. Sedangkan dalam aktivitas sehari-hari, seniman melakukan tindakan seperti, menjadi pelatih tari maupun menggelar pameran topeng.
Kata Kunci : Tindakan sosial seniman, Pelestarian Kesenian Topeng Malangan, front stage, back stage, Social action of artists, Preservation of Kesenian Topeng Malangan.
 
TEORI KONFLIK

Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat.
Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional.Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini adalah pemikiran Karl Marx.Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak. Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional.
Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya.Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke- 19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga. Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka.
Ada beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini. Teori konflik merupakan antitesis dari teori struktural fungsional, dimana teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan dalam masyarakat. Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. Buktinya dalam masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik atau ketegangan-ketegangan. Kemudian teori konflik juga melihat adanya dominasi, koersi, dan kekuasaan dalam masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan.
Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial. Ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga terciptalah suatu konsensus.
Menurut teori konflik, masyarakat disatukan dengan “paksaan”. Maksudnya, keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena adanya paksaan (koersi). Oleh karena itu, teori konflik lekat hubungannya dengan dominasi, koersi, dan power. Terdapat dua tokoh sosiologi modern yang berorientasi serta menjadi dasar pemikiran pada teori konflik, yaitu Lewis A. Coser dan Ralf Dahrendorf.
Sumber ini berasal dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_konflik, diakses pada tanggal 20 Juni 2012

Contoh penelitian yang menggunakan Teori Konflik :

KERANGKA PROSES KONFLIK DAN SOLUSI KONFLIK PADA SISWA SMA DI SURABAYA BERDASAR DINAMIKA PSIKOLOGIS

Penulis : Mohamad Nursalim, dkk

Sumber : http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&ved=0CFAQFjAC&url=http%3A%2F%2Fmochamadnursalim.cv.unesa.ac.id%2Fdoc%2F201105%2FABSTRAK__PENELITIAN.pdf&ei=PlfnT9OoDYXzrQeZtfHvCA&usg=AFQjCNEXM7VwqIhXReIdeg8uVjSMwAQ-mA&sig2=4GZKUfko-ZngooXjYdCLyw di akses pada tanggal 20 Juni 2012

ABSTRAK  PENELITIAN

Selama ini konsep konflik beserta solusinya cenderung berorientasi pada sebabsebab konflik yang bersumber dari faktor-faktor eksternal dengan fokus kajian pada aspek subsistem-subsistem sosial. Konsep ini dikelompokkan sebagai teori konflik makro. Gerakan resolusi konflik terkini memusatkan pada usaha pencegahan konflik destruktif dalam tataran edukatif, kultural, paedagogis. Program ini berorientasi pada teori konflik mikro dengan fokus kajian bagaimana dinamika psikologis individu dalam menghadapi konflik. Fokus peneltiian ini adalah mengungkap faktor penyebab konflik pada siswa, bagaimana proses konflik, dan proses solusi konflik dalam kerangka dinamika psikologis individu. Desain yang digunakan adalah logika pengaitan antara data yang harus dikumpulkan dan kesimpulan-kesimpulan yang akan dihasilkan dengan pertanyaan awal penelitian. Penelitian ini menggunakan studi kasus tunggal dan multi kasus dan dua teknik analisa, pattern-matching, dan explanation-building. Pattern-matching dilakukan dengan membandingkan pola dari data empiris dengan pola yang telah diprediksi berdasarkan teori. Untuk mendapatkan pola dari data empiris, terutama data hasil wawancara, dilakukan dengan cara pemeriksaan data kemudian berusaha untuk mencari kata kunci dan tema. Pada tahap explanation-building, analisa data dari penelitian studi kasus dilakukan dengan cara membangun penjelasan terhadap “kasus” yang dicermati dengan merujuk pada teori yang dipakai. Kasus yang diamati terdiri dari tiga belas kasus tunggal yang diplih berdasar variasi kasus, guna mendapatkan perspektif berbeda dan luas.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Konflik disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: perbedaan  pendapat antar  antar individu,  kesalahpahaman, tindakan yang dianggap merugikan pihak lain, dan perasaan terlalu sensitif yang mengarah pada pemikiran negatif. Secara umum dibedakan atas dua penyebab perbedaan pandangan dan tehalngnya pencapaian tujuan; (2) Persepsi individu terhadap konflik merupakan apa yang difikirkan sehingga membentuk cara pandang yang menuntunnya untuk memilih sikap tertentu dalam menghadapi  konflik.  Cara  berfikir  subyek  pada  kasus  berhubungan  dengan  pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai yang diinternalisasi sehingga membentuk prinsip diri. Dalam memersepsi konflik ada tiga hal yang menjadi fokus pandangan yaitu: (a) persepsi terhadap masalah konflik itu sendiri,(b) persepsi terhadap tujuan-tujuan, dan (c) persepsi terhadap subyekpelaku konflik; (3) Penghayatan individu terhadap obyek amatan dibentuk oleh realitas obyek itu dan realitas individu itu sendiri. Realitas obyek dalam hal ini adalah siapa pihak konflik, bagaimana masalah serta konteks masalahnya, dan akibat yang ditimbulkan konflik. Realitas individu mencakup pemahaman, pengalaman, nilai-nilai individu yang memandu dirinya dalam mengesankan  realitas  obyek  konflik, (4)  dinamika  psikologis  internal  individu  dalam menghadapi konflik dapat dikategorikan dalam tiga bagian yang menyatu mencakup komponen-komponen atas segitiga ABC, yang menunjuk Attitudes + Behavior + Contradiction.  Istilah komponen ABC merangkum Sikap + Perilaku + Pertentangan dalam segitiga SPP.


Konflik Sosial Tokoh Sobrat dalam Naskah Drama Sobrat karya Arthur S. Nalan

Penulis : Dody Kristianto

Sumber : http://manuskripdody.blogspot.com/2009/02/abstrak-skripsi.html diakses pada tanggal 20 Juni 2012
Konflik adalah salah satu unsur pembangun karya sastra. Dalam kerangka hubungan sosial, konflik adalah salah satu bagian pembangunnya. Naskah drama Sobrat juga mengandung konflik sebagai salah satu unsur pembangun karya sastra. Sobrat sebagai salah satu tokoh tentu berhadapan dengan konflik karena frekuensi kemunculan dan persinggungannya dengan tokoh lain. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan konflik sosial yang dialami oleh tokoh Sobrat, (2) mendeskripsikan penyebab konflik sosial yang dialami oleh tokoh Sobrat, (3) mendiskripsikan penyikapan tokoh Sobrat terhadap konflik sosial yang dialaminya.
Penelitian ini menggunakan perspektif sosiologi sastra karena sastra adalah refleksi kenyataan. Teori yang digunakan adalah teori konflik Marx. Teori Marx menekankan pada pertentangan antara kaum borjuis dan proletar. Marx berpendapat bahwa masyarakat kapitalis bertahan untuk mempertentangkan konflik dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah kaum borjuis yang menguasai sistem dan alat-alat produksi serta kelompok pekerja atau proletar yang semakin banyak dan bertambah miskin. Kedua kelompok inilah yang disebut sebagai bangunan atas dan bangunan bawah yang saling menentukan. Dalam naskah drama Sobrat, tokoh Sobrat berposisi sebagai proletar yang harus berhadapan dengan beberapa tokoh borjuis.
Pendekatan makrosastra digunakan dalam penelitian ini sebab penelitian ini berfokus pada konflik sosial yang dialami oleh tokoh Sobrat. Konflik disini dalam arti terjadi karena adanya interaksi antarindividu yang dialami oleh tokoh Sobrat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian ini adalah (1) konflik yang dialami oleh tokoh Sobrat terjadi karena pertentangan kelas dan perbedaan kepentingan. Konflik karena pertentangan kelas terjadi antara Sobrat dengan Ngabihi, Dongson, Para mandor Bukit Kemilau serta Rasminah, sedangkan konflik yang terjadi karena perbedaan kepentingan terjadi antara Sobrat dengan Awak kapal de Boulsit, Samolo dan Inang Honar. (2) konflik antara Sobrat dengan tokoh-tokoh lainnya secara umum didominasi oleh beberapa penyebab yaitu (a) kemiskinan, (b) perbedaan kepentingan dan (c) eksploitasi. Penyebab paling utama adalah perbedaan kepentingan, terutama bila Sobrat harus berhadapan dengan kaum penguasa. (3) beberapa sikap diambil Sobrat dalam menghadapi konflik yaitu (a) kompromi, (b) pasrah, (c) berkomplot, (d) bersikap curang, (e) melawan penindasan, (f) balas dendam, dan (g) pantang menyerah.
Kata Kunci : konflik sosial, tokoh Sobrat

TEORI PERUBAHAN SOSIAL

Membahas teori perubahan social (social change theory), August Comte (1798-1857) membagi dalam dua konsep penting; yaitu Social Static (bangunan structural) dan Social Dyinamics (dinamika structural). Bangunan structural merupakan hal-hal yang mapan, berupa struktur yang berlaku pada suatu masa tertentu. Bahasan utamanya mengenai struktur social yang ada dimasyarakat yang melandasi dan menunjang orde, tertib, kestabilan masyarakat. Statika social ini kemudian disepakati oleh anggota masyarakat dank arena itu disebut sebagai ‘kemauan umum’ atau ‘volonte general’ (KJ. Veeger, 1985: 25-26). Hasrat dan kodrat manusia adalah persatuan, perdamaian, kestabilan atau keseimbangan. Tanpa unsure-unsur stuktural ini kehidupan manusia tidak dapat berjalan. Akan selalu terjadi pertengkaran dan perpecahanmengenai hal-hal yang sangat mendasar, sehingga kesesuaian paham sukar terbentuk. Pembedaan antara statika social dan dinamika social denagn demikian bukanlah pembedaan yang menyangkut masalah factual melainkan lebih tepat dikatakan sebagai pembedaan teoritik.TEORI PERUBAHAN SOSIAL
Dinamika social merupakan hal-hal yang berubah dari suatu waktu ke waktu yang lain, yang dibahas adalah dinamika social dari struktur yang berubah dari waaktu ke waktu. dinamika social adalah daya gerak dari sejarah tersebut, yang pada setiap tahapan evolusi manusia mendorng kearah tercapainya keseimbangan baru yang tinggi dari suatu masa kemasa berikutnya. Struktur dapat digambarkan sebagai hierarchy masyarakat yang memuat pengelompokan masyarakat berdasrkan kelas-kelas tertentu(elite, middle, dan lower class). Seangkan dinamika social adalh proses perubahan kelas-kelas masyarakat itu dari satu masa kemasa yang lain.
Perubahan social ada pada dinamika structural, yaitu perubahan atau issue perubahan social yang meliputi bagaimana kecepatannya, arahnya, agennya, bentuknya serta hambatan-hambatannya. Perubahan bangunan structural dan dinamika structural merupakan bagian yang saling terkait, tidak dapat dipisahkan, yang berbeda hanya pada kajian atau analisisnya. Perubahan social memiliki cirri yaitu berlangsing terus-menerus dari waktu kewaktu, apakah direncanakan atau tidak yang terus terjadi tak tertahankan. Perubahan adalah proses yang wajar, alamiyah sehingga segala yang ada di dunia ini akan selalu berubah. Perubahan akan mencakup suatu system social, dalam bentuk organisasi social yang ada dimsyarakat, perubahan dapat terjadi dengan lambat, sedang atau keras tergantung situasi (fisil, buatan atau social) yang mempengaruhinya.
Untuk menerangkan proses perubahan social secara makro atau global, ada baiknya dipahami bahwa perubahan social akan tampak jelas dalam hubungan makro, yang tercermin dalam hubungan antar Negara, wilayah, regionalitas dan tata masyarakat yang sangat luas. Menurut kesepakatan internasional,, masyarakat dunia dibagi dalam tiga kelompok Negara. Tiga kelompok Negara ini dalam tata hubungan internasional, berkembang saling berinteraksi member pengaruh. Kelompok Negara Dunia I yaitu kelompok Negara Eropa Barat, Amerika serikat (berada dibagian utara belahan dunia) tapi banyak yang menyebut sebagai blok barat. Kelompok Negara Dunia II yaitu kelompok Negara Sosialis dan Komunis, yang lebih dikenal sebagai blok timur. Kelompok Negara Dunia III yaitu Negara-Negara di benua Asia, Afrika, dan Ameriaka Latin, yang berada di belahan dunia bagian selatan (sehingga dikenal sebagai kelompok selatan).
Pada Dunia III, perubahan social bukannya dibiarkan, tetapi ingin dikendalikan atau direncanakan oleh kelompok Dunia I (biasanya ‘menbantu’ dengan dana, sumber daya manusia dan teknologi). Ada unsure usaha khusus yang berasal dari pemerintah dan kelompok masyarakat untuk mencobamnegendalikan perubahan social kesatu arah yang diinginkan. Model perubahan social itu disebut planed change atau development. Di negara blok sosialis, perubahan social sangat ditentukan oleh Negara, sebahliknya di negara barat perubahan social ditentukan oleh permintaan pasar bebas sehingga perubahan lebih cepat terjadi dalam gerakan yang sangat dinamis.
Bahan-bahan konseptual yang dijadikan acuan penulisan tentang perubahan social ini meliputi : kelompok teorinSosiologi klasik diruntut dari pemikiran Karl Maex, Marx Weber dan Emile Durkheim. Penulisan ini terkait dengan satu upaya untuk menjelaskan suatu proses perubahan masyarakat dalam kerangka pendekatan teori-teori sosiologi dengan tepat. Disamping aspek kajian teoritik, perubahan social juga diproyeksikan dalam lima fenomena empiric. Kelima unsure perubahan social ini dilihat sebagai kekuatan eksternal, yang mempengaruhi dinamika spek-aspek static (structural) dalam masyarakat. 1) Informasi Komunikasi (meliputi pengaruh media massa dengan bentuk industry pers). 2) Birokrasi (meliputi keterkaitan birokrasi sipil dan militer). 3) Ideologi (meliputi agama dan HAM). 4) Modal (meliputi modal financial dan SDM). 5) Teknologi (merupakan unsure yang cepat berubah dan sangat tergantung kepada pemilikan modal). Kelima unsure itu menjadi materi utama perubahan social, memiliki relevansi yang sangat tinggi dalam khasanah perkembangan ilmu-ilmu social. Berbagai topic masalah yang muncul dari setiap permasalahan ini mengacu pada pokok permasalahan yang memiliki potensi besar dibahas secara menyeluruh.
1. Arus Berpikir
Studi tentang perubahan social pada umumnya bertolak dari lima pertanyaan yang selalu muncul dan menggelitas dari setiap pengkajian materi (subtansi).
1. Jenis studi apa yang membahas kerangka perubahan social ?
Kegiatan pengkajian perubaha social seringkali dikaitkan dengan sejarah suatu komunitas masyarakat yang diambil dari dua kurun yang berbeda, sehingga dapat dipakai sebagai ancangan kajian perubahan social secara lebih mendalam. Cirri utama dari kajian semacam itu akan mencakup domain (ekonomi, kebudayaan, politik dll) apa yang paling berpengaruh. Perubahan social selalu bersumber dari keadaan spesifik, dari suatu kondisi masyarakat sehingga dapat dipakai untuk menjelaskan kondisi perubahan social yang terjadi. (kajian itu mencakup jaringan social, organisasi social atau domain tertentu, meliputi ekonomi, hukum, politik, pendidikan dll)
2. Bentuk-bentuk perubahan social apa yang terjadi di masyarakat ?
Dengan memhami bentuk materi perubahan social dimasyarakat, dapat melakukan perbandingan sehingga mendapatkan kegunaan langsung dari aspek-aspek perubahan itu. Misalnya perubahan social yang dihasilkan dari akumulasi masyarakat terdidik disuatu lokasi, akumulasi itu membentuk kelas menengah pendidikan disuatu masyarakat. Kelompok ini menjadi innovator penggerak perubahan masyarakat yang secara eksplisit, menghasilkan peningkatan pola konsumsi masyarakat dan peningkatan produksi masyarakat dalam arti luas.
3. Apa yang disebut hubungan sebab-akibat (cause and effects) dalam proses perubahan social yang ada di masyarakat ?
Dalam memahami rangkaian hubungan sebab dan akibat ini dapat digambarkan adanya struktur dan fungsi dari factor-faktor perubahan social. Hubungan sebab-akibat ini ditujukan dengan metodologi yang jelas, terutama untuk mengkaji bahan-bahan primer. Seringkali hubung sebab akibat diaktualisasikan dalam bentuk hubungan antara berbagai konsep teoritis yang menjado acuan konsepsi penelitian yang sangat positivistic. Asumsi perubahan social sebagai konsep sebab-akibat ini mengandung daya kritik yang cukup tajam dari kelompok post positivism yang kemudian dilanjutkan oleh kelompok pemikir sosiologi mikro yang berasal dari aliran kritikal teori atau realism (marx)
4. Bagaiman membedakan mentuk-bentuk perubahan social yang ada dimasyarakat ?
Sampai dimana studi perubahan social membedakan beragam domain dalam suatu masyarakat. Sebab sejauh ini studi perubahan social selalu muncul dari berbagai domain yang saling terkait. Perubahan social yang berasal dari aspek ekonomi akan selalu terkait dengan perubahan perilaku yang berasal dari aspek non-ekonomis (politik, pendidikan dll)
5. Sampai dimana perlu mempelajari kepribadian dan maturasi orang dalam rangkaian proses perubahan social yang terjadi (bagaimana perkembangan personality masing-masing actor social, yang mengarahkan perubahan)?
Apakah ilpu psikologi perlu diambil ‘jasanya’ untuk menjelaskan proses perubahan social pada umumnya. Kalau hal ini dapat dibenarkan maka aliran pengaruh freud menjadi cukup penting beserta aliran-aliran psikologi perkembangan lain. Dalam pembahasan ini, hal itu hanya dipertanyakan, sejauh perlukah member bobot atau warna tersendiri bagi kajian ilmu psikologi bagi materi perubahan social.

Sumber berasal dari : http://www.imammurtaqi.com/2012/04/teori-perubahan-sosial.html diakses pada tanggal 20 Juni 2012

Contoh penelitian yang menggunakan Teori Perubahan Sosial :

ETOS KERJA PEREMPUAN PENGUSAHA TENUN IKAT DALAM USAHA MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN EKONOMI KELUARGA DI KECAMATAN DAWAN KABUPATEN KLUNGKUNG
Penulis : A.A. Gede Agung, dkk.
Sumber : https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:ZgnJ-O-V6nkJ:www.undiksha.ac.id/lemlit2/kajianwanita/images/img_lemlit2_penelitian/40.doc+&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESgnhanGVqm1LjpLrnz3hZ90gNnhSQ3Riy12jC0mzpSJDDKPbzRotOBb5DEW8QpIcSfffSbVMvcdbmkODmgPX-l1r0voiPNHPkmZWaZBEypMiCfTpOmF2AoUutn2TBCzFI3AE3TX&sig=AHIEtbT4-9HFRAfvRjGkHE1p107zsJs9Sg diakses pada tanggal 20 Juni 2012
            Penelitian ini mengungkapkan tentang Etos kerja perempuan pengusaha tenun ikat dalam usaha mewujudkan kemandirian ekonomi keluarga di Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung khususnya di Desa Sampalan Tengah dan Desa Sulang. Sebagai kajian kualitattif dan berparadigma budaya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang (1) faktor-faktor yang memotivasi perempuan di Desa Sampalan Tengah dan Desa Sulang Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung menekuni aktivitas sebagai pengusaha tenun ikat, (2) mekanisme kerja yang dilakukan oleh perempuan dalam mengelola usaha tenun ikat di Desa Sampalan Tengah dan Desa Sulang Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung, dan (3) implikasi dari aktivitas perempuan yang menekuni usaha tenun ikat di Desa Sampalan Tengah dan Desa Sulang Kecamatan Dawan Kabupaten Klungkung  terhadap kemandirian ekonomi keluarga.
            Di dalam menganalisis permasalahan-permasalahan di atas penulis menggunakan landasan teori motivasi, teori hegemoni, dan teori perubahan sosial. Untuk memperoleh data yang relevan dengan permasalahan tersebut, penulis menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumenter. Data yang diperoleh kemudian dicek dengan menggunakan teknik triangulasi.
            Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan Kecamatan Dawan menekuni aktivitas sebagai pengusaha tenun ikat didorong oleh faktor infrastruktur yang meliputi faktor teknologi, ekonomi, ekologi, dan factor struktur sosial yang terdiri atas pelapisan social, keluarga dan kekerabatan, pendidikan, serta juga didorong oleh factor superstruktur yakni ideologi dan agama.
            Dalam menjalankan aktivitasnya sebagai pengusaha tenun ikat, mereka akan selalu berhubungan dengan masalah pengadaan modal kerja berupa modal uang, alat produksi, bahan baku, serta tempat kerja. Keberhasilan seorang pengusaha dalam mengolala usahanya juga sangat ditentukan oleh faktor tenaga kerja atau karyawan dan konsumen atau pembeli. Pemeliharaan hubungan yang baik dan bersifat kekeluargaan sangat penting bagi keberlangsungan usahanya.
Usaha tenun ikat yang ditekuni oleh perempuan di Kecamatan Dawan khususnya di Desa Sampalan Tengah dan Desa Sulang telah mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Perekonomian keluarga tidak saja menjadi tanggungjawab laki-laki tetapi juga merupakan tanggungjawab bersama. Usaha tenun ikat tidak saja menciptakan kemandirian ekonomi keluarga tetapi juga berimplikasi terhadap kemandirian kaum perempuan.
Kata kunci : perempuan, pengusaha, kesetaraan gender
 
DAFTAR SUMBER
http://baguz01.blogspot.com/2012/04/sejarah-teori-interaksi-simbolik.html#ixzz1yinKOFDn di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://eprints.undip.ac.id/7778/1/ABSTRAKSI_dianita.pdf di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://ml.scribd.com/doc/95277428/Interaksionisme-Simbolik-Tindakan-Masyarakat-Dalam-Pengelolaan-Hutan-Abstrak di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://www.psychologymania.com/2011/11/albert-bandura-tokoh-pembelajaran.html di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://alumni.unair.ac.id/kumpulanfile/4048835274_abs.pdf di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://id.wikipedia.org/wiki/Fungsionalisme_struktural di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://geografi.jurnal.unesa.ac.id/82_561/hubungan-tingkat-sosial-ekonomi-orang-tua-dengan-pola-pendidikan-anak-di-kecamatan-rungkut-kota-surabaya di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://digilib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=13073 di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://www.scribd.com/doc/61426763/Simone-de-Beauvoir, di akses pada tanggal 20 Juni 2012. Di ambil dari BAB I  Garis Besar Pemikiran Simone de Beauvoir.
http://uap.unnes.ac.id/data/skripsi/abstrak/ppt/citra_perempuan_dalam_novel_ci_2102407153.ppt. di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/197212021999032-RETTY_ISNENDES/Jurnal_FPBS-Suara_Perempuan_dalam_PUPUTON.pdf di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://rsbikaltim.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_11.html, di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://id.wikipedia.org/wiki/Marxisme, di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&ved=0CFkQFjAE&url=http%3A%2F%2F118.97.11.134%2Farchivelama%2Fskripsi%2Fpbsi%2F031060031592010-skripsi-pendidikan-bahasa-dan-sastra-indonesia-UAD-Novel-Kembang-Jepun-PBSI.pdf&ei=lUnnT4joOMa4rAf51t2ACQ&usg=AFQjCNFj5zzezgk0GGfe4vzcGTRnpltELw&sig2=eBm_ivdpl6wmbzVGkm24Vg diakses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://www.scribd.com/doc/68479491/12/Teori-Tindakan-Sosial diakses pada tanggan 20 Juni 2012.
http://galihdanary.wordpress.com/2010/12/06/teori-perilaku-sosial-max-weber-teori-sosiologi-klasik/ diakses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/119472-D%2000927%20Perubahan%20hubungan--Abstrak.pdf diakses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://elibrary.ub.ac.id/handle/123456789/33219 diakses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_konflik, diakses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&ved=0CFAQFjAC&url=http%3A%2F%2Fmochamadnursalim.cv.unesa.ac.id%2Fdoc%2F201105%2FABSTRAK__PENELITIAN.pdf&ei=PlfnT9OoDYXzrQeZtfHvCA&usg=AFQjCNEXM7VwqIhXReIdeg8uVjSMwAQ-mA&sig2=4GZKUfko-ZngooXjYdCLyw di akses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://manuskripdody.blogspot.com/2009/02/abstrak-skripsi.html diakses pada tanggal 20 Juni 2012.
http://www.imammurtaqi.com/2012/04/teori-perubahan-sosial.html diakses pada tanggal 20 Juni 2012.
https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:ZgnJ-O-V6nkJ:www.undiksha.ac.id/lemlit2/kajianwanita/images/img_lemlit2_penelitian/40.doc+&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESgnhanGVqm1LjpLrnz3hZ90gNnhSQ3Riy12jC0mzpSJDDKPbzRotOBb5DEW8QpIcSfffSbVMvcdbmkODmgPX-l1r0voiPNHPkmZWaZBEypMiCfTpOmF2AoUutn2TBCzFI3AE3TX&sig=AHIEtbT4-9HFRAfvRjGkHE1p107zsJs9Sg diakses pada tanggal 20 Juni 2012.

No comments:

Post a Comment