Thursday, August 4, 2011

Ke Mana Pemuda Tionghoa?

Pengarang : Dedi Rinaldi

More About : pemuda tionghoa dalam dunia sepak bola
Bahkan, cerita rahasia di balik sukses itu pun tetap tersimpan rapi di benak kakek yang dulu berjuluk "macan Betawi" ini. Dengan berat hati saya mengatakan mengapa Indonesia bisa menahan Soviet. Saya waktu itu bermain keras. Siapa pun yang dekat, saya hantam,” kata Liong Houw yang punya nama asimilasi Latif Harris Tanoto dan kini berusia 75 tahun.
Dengan kondisi kaki remuk dan kelelahan karena habis-habisan di partai pertama, Liong Houw dan kawan-kawan ditelan 4-0. Soviet sendiri kemudian melaju meraih medali emas Olimpiade Melbourne. Celakanya pula, semangat patriotisme di Melbourne 1956 itu kemudian seperti teronggok dibalik terali sejarah. Bukan hanya dari sisi prestasi sepak bola nasional di percaturan dunia, tapi juga sirnanya semangat kontribusi satu etnis pada tim nasional, yaitu para pemuda Tionghoa. Kontribusi pemain-pemain etnis Tionghoa buat sepak bola Indonesia tidak berlanjut seperti cabang bulu tangkis. Sebuah fakta yang menyesakkan karena sejarah sepak bola Indonesia tak bisa dipisahkan dari eksistensi perkumpulan olahraga (POR) yang dimotori para warga keturunan.
Mungkin, karena PKI diidentikkan dengan etnis ini sehingga warga Tionghoa seperti takut melakukan aktivitas massal di ruang terbuka. Sebenarnya, peristiwa hitam dalam sejarah negeri ini tidak lantas membuat jeri seluruh warga Hoakiau. Terbukti, hingga awal 1970-an, warga keturunan masih bisa muncul. Namun, kiprah pemain etnis Tionghoa di tim nasional seperti terputus setelah Mulyadi dan Surya Lesmana habis. Memang sempat muncul Tanoto bersaudara, Budi dan Wahyu, keduanya anak Tan Liong Houw, tapi kiprah mereka cuma sekilas di tim nasional dan di Persija. Tidak fenomenal seperti sang ayah. ”Sekitar 1973, ketika Mulyadi dan Surya Lesmana selesai kariernya di tim nasional, maka tak ada lagi pemain etnis Tionghoa yang muncul. Pesepak bola etnis ini tak punya penerus di tim nasional.
Ada sebagian masyarakat yang belum bisa menerima etnis China sepenuhnya.” Hal kedua, menurut Liong Houw, adalah kebijakan diskriminatif yang diberlakukan pemerintah hingga saat ini. ”Pemerintah masih membedakan masyarakat pribumi dan nonpribumi, keturunan dan bukan keturunan. Mengapa harus dibedakan begitu? Padahal kita semua rakyat Indonesia. Selama dua faktor di atas masih berlangsung, sulit bagi etnis Tionghoa untuk kembali dan mau berprestasi di lapangan hijau.” Jika Liong Houw menilik dari aspek sosial dan kebijakan pemerintah, maka Sekretaris Yayasan UMS, Michael Chandra, melihatnya dari cara berpikir etnis China yang pragmatis.
Karena itu, sepak bola bagi etnis Tionghoa saat ini hanya dijalani sebagai hobi dan kesenangan,” cetus Michael. Sementara itu, Sunarto, mantan pemain nasional di era 1960-an, menduga zaman sekarang warga etnis Tionghoa takut jadi pesepak bola lantaran ngeri keributan di lapangan, yang secara tiba-tiba bisa berlanjut menjadi sentimen ras.


No comments:

Post a Comment