Indonesia Chinese dimasa Perang Dunia II juga tidak sedikit yang berperan,
ikut berkorban dalam melawan Jepang. Hanya saja, sangat disayangkan tidak
terangkat menjadi Pahlawan Nasional, dilupakan atau bahkan bisa dikatakan
digelapkan dalam sejarah Indonesia. Syukur kalau para ahli sejarah bisa mulai
meneliti masalah perjuangan etnis Tionghoa di Indonesia, ya. Sekalipun saya juga
tidak bisa mengajukan photo-photo yang bersangkutan, namun demikian ada baiknya
juga beberapa nama diantaranya tetap bisa diajukan agar diketahui terutama
pamuda-pemudi Indonesia, bahwa benar-benar ada etnis Tionghoa yang berjuang
bersama rakyat Indonesia dalam setiap gerakan. Dan yang pasti, sekalipun ketika
itu mereka tetap menyandang nama 3 suku yang Tionghoa itu, tidak menegasi
ke-SETIA-an dan loyalitas mereka pada Indonesia, dimana mereka dilahirkan dan
dibesarkan.
· Di-tahun 30-an BRIGADE INTERNATIONAL, kekuatan bersenjata melawan fasis
Franco, satu-satunya orang yang mewakili Rakyat Indonesia adalah Dr. Tio Oen Bik
, anak Tuban-Jawa Timur! Dr. Tio Oen Bik yang baru lulus sebagai dokter di
Nederland, atas prakarsa Perhimpunan Indonesia di Nederland, bersedia ikut dalam
Brigade International mewakili Indonesia. Ingat, sekalipun bernama tiga suku
yang bernada Tionghoa, Tio Oen Bik, tetap mewakili Rakyat Indonesia, bukan
mewakili rakyat Tiongkok.
· Ir.Soekarno dalam usaha persiapan membangun kembali PNI dan mendirikan
PARTINDO, juga mendapatkan bantuan dari teman-teman seperjuangan Suku Tionghoa,
antara lain yang pernah disebut, Liem Seng Tee, pemilik pabrik rokok kretek Djie
Sam Soe ( 2 3 4 ), Tan Ping Tjiat dari Surabaya dan Liem Sui Chuan dari Bandung.
Dan mereka ini dinyatakan oleh Ir.Soekarno sebagai orang yang selalu memihak
kepentingan rakyat Indonesia!
· GERINDO (Gerakan Rakyat Indonesia) yang didirikan pada tgl. 18 Mei
1937 dibawah pimpinan A.K. Gani; Moh. Yamin; Amir Syarifudin; S. Mangunsarkoro
dan Wilopo, adalah organisasi yang menghidupkan kembali pendirian Indische
Partij, yang menyatukan semua kekuatan rakyat Indonesia dalam perjuangan melawan
penjajah tanpa membedakan suku; agama dan keturunan yang ada. Oei Gee Hwat
sekretaris Pengurus Besar PTI (Partai Tionghoa Indonesia) adalah salah satu
anggota GERINDO ketika itu.
· Pendiri PTI, Liem Koen Hian untuk mendorong golongan peranakan
Tionghoa sebagai putra Indonesia, yang bisa merasa senasib dengan rakyat
Indonesia, bisa bersama-sama rakyat Indonesia berjuang melawan penjajah Belanda
mencapai kemerdekaan, disusunlah staf pengurus Harian "MATA HARI" yang dipimpin
oleh Kwee Hing Tjiat. Pendirian Harian "MATA HARI", yang dipropagandakan ketika
itu adalah: sebagai kenyataan lahir di Indonesia, maka sama halnya dengan
putra-putra Indonesia, wajib bekerja-sama, ber-setiakawan, bergotong-royong
melawan penjajah Belanda dan membangun Indonesia untuk kemakmuran hidup bersama.
Dan penerbitan Harian "MATA HARI" ini mendapatkan sokongan dan dukungan kuat
dari pejuang-pejuang kemerdekaan seperti Ir.Soekarno, Dr.Tjipto Mangunkusumo;
Mr. Iwa Kusumasumantri; Drs.Moh. Hatta; Mr. Amir Syarifudin; Mr.Moh.Yamin; dan
Mr. Achmad Subardjo.
· Didalam BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia), yang dipimpin
oleh Bung Tomo, kita juga bisa melihat adanya pemuda Tionghoa yang ikut aktif,
seperti Gam Hian Tjong dan Auwyang Tjoe Tek. Dan menurut keterangan, Auwyang
Tjoe Tek didalam PBRI termasuk ahli membikin peluru, pengalaman yang didapatnya
semasa ikut perjuangan bersenjata di Tiongkok. Sedang didalam Laskar Merah
ketika itu, juga terdapat pemuda Tionghoa, pemain sepakbola terkenal - The Djoe
Eng. Jadi, disamping banyak pemuda-pemuda Tionghoa yang terjun langsung didalam
Laskar-laskar perjuangan melawan penjajah Belanda, tentu juga tidak bisa
dilupakan adanya organisasi-organisasi suku Tionghoa yang ikut langsung dalam
gerakan-gerakan Kemerdekaan, seperti Angkatan Muda Tionghoa, yang mengorganisasi
pemuda-pemuda Tionghoa untuk ikut perjuangan kemerdekaan.
· KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) pertama, ternyata juga mengikut
sertakan wakil peranakan Tionghoa, Drs. Yap Tjwan Bing dan Liem Koen Hian.
Kemudian ditambah lagi 2 orang peranakan Tionghoa, yaitu Tan Ling Djie dan Inyo
Beng Goat. Sedang Tan Ling Djie dalam sidang KNIP kedua, dipilih sebagai anggota
Badan Pekerja. Dan menjelang sidang KNIP di Solo, jumlah anggota KNIP ditambah
lagi seorang peranakan Tionghoa, yaitu Siauw Giok Tjhan.
Kemudian, menjelang sidang KNIP di Malang untuk mengesahkan Perjanjian
Linggarjati, ditambah lagi 2 orang peranakan Tionghoa, yaitu Dr. Oey Hway Kim
dan Ir. Tan Boen An. Disamping itu, masih ada peranakan Tionghoa yang mewakili
partai politik, misalnya Oei Gee Hwat sebagai wakil Partai Sosialis dan Lauw
King Hoo sebagai wakil Partai Komunis Indonesia.
Kalau wakil-wakil peranakan Tionghoa yang di-ikut sertakan dalam Volksraad,
jaman penjajah Belanda, adalah wakil-wakil pengusaha besar, maka didalam KNIP
hanya Drs. Yap Tjwan Bing yang bisa dikatakan pengusaha, karena memiliki
beberapa apotik.
· Hasil Pemilihan Umum pertama, yang kita kenal sebagai satu-satunya
pemilihan umum yang benar-benar demokratis, ternyata juga bisa menghasilkan 2
orang wakil peranakan Tionghoa, yaitu Siauw Giok Tjhan dari daftar calon BAPERKI
dan Oei Hay Djun dari daftar calon PKI. Dan kita masih tetap bisa melihat adanya
nama-nama bersuku tiga yang mewakili Partai2 politik yang ada ketika itu,
seperti Oei Tjing Hien mewakili Masyumi; Tan Oen Hong dan Tan Kiem Liong
mewakili NU; Lie Poo Yoe mewakili PNI; Tjoo Tik Tjoen mewakili PKI dan Tjung Tin
Yan SH mewakili Partai Katholik.
· Kemudian kita juga masih sempat melihat adanya seorang bernama tiga
suku yang duduk didalam kabinet Gotong-royong di akhir kekuasaan Presiden
Soekarno, yaitu Menteri-negara Oei Tjoe Tat.
Nah, berbeda dengan etnis Tionghoa-Indonesia yang sempat pulang
ke-daratan Tiongkok, ternyata ada juga yang terangkat jadi Pahlawan Nasional
dalam bertempur melawan Jepang. Baru saja saya temukan dalam majalah Khusus
"Memperingati 50 Tahun KAA" yang diterbitkan Alumni Sekolah Bandung di Hong
Kong, rupanya ada seorang Pahlawan-Nasional anak Bandung, yang bernama Nio Tiam
Seng! Nio Tiam Seng setelah lulus sekolah menengah Tionghoa Bandung, pulang
kembali ke Tiongkok untuk meneruskan sekolah, dan terdorong oleh semangat
melawan agresi Jepang, dia masuk kesekolah Angkatan Udara, Setelah lulus ditahun
1937, langsung ikut dalam skuadron pertempuran melawan Jepang. Dalam pertempuran
udara melawan Jepang di Propinsi Shantung, dekat Han-kou pada tgl. 11 Juni 1939,
pesawat tempur E-15 bernomor 2307 tertembak jatuh, dan Nio Tiam Sheng tewas
dengan gagah berani melawan agresi Jepang. Beliau mendapat kehormatan sebagai
Pahlawan Nasional yang dikebumikan di Taman Pahlawan Mela
wan
Jepang Nanking.